Kamis, 24 September 2026

Bulughul Maram 001

📝 RINGKASAN AUDIO KAJIAN 

💺🎙 Al-Ustadz Abu Muawiyah Idris حفظہ الله تعالــﮯ

📚 Materi :
"Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam 
(Karya Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalany رحمه الله )

📌 "Muqaddimah Muallif"

📼 Pertemuan Ke-1

🗓 Rabu malam, 12 Rabiul Akhir 1448 H / 23 September 2026 M
 
📍🕌 Masjid Al-Khoir Ma'had Daarul Atsaar Purwakarta

#bulughulmaram@salafypurwakarta
https://t.me/bulugh_almarom

⚠️ Mukadimah: Mengenal Kitab Bulughul Marām dan Biografi Penulisnya

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Sebelumnya kita telah membahas kitab Manhajus Sālikīn yang membahas tentang fiqih dan alhamdulillah telah selesai. Kini, kita dilanjutkan kembali untuk membahas tentang fiqih melalui kitab Bulughul Marām.

Mempelajari fiqih secara umum termasuk ke dalam tafaqquh fiddin (memperdalam ilmu agama). Rasūlullāh ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allāh ﷻ kehendaki kebaikan, maka Allāh ﷻ akan pahamkan dia dalam agamanya.” (HR. Bukhāri dan Muslim)

Maka, semoga kajian ini menjadi bentuk usaha kita dalam memahami agama Allāh ﷻ.

📌 Sekilas Tentang Penulis: Al-Hāfizh Ibnu Hajar al-Asqalānī رحمه الله

Sebagai mukadimah, penulis kitab Bulughul Marām ini adalah ulama yang dikenal dengan Ibnu Hajar al-Asqalānī. Nama lengkap beliau dengan huruf ‘ain, sīn, qāf, lām, alif, dan nūn: العَسْقَلَانِي. 

Biografi ringkas Al-Hāfizh Ibnu Hajar al-Asqalānī رحمه الله : 
Laqab (gelar) beliau adalah Syihābuddīn, kunyah beliau adalah Abul Fadhl, dan nama beliau adalah Aḥmad. Jika diringkas, nama beliau adalah Aḥmad bin ‘Alī bin Muḥammad. Namun, jika ditelusuri lebih lanjut ke atas, nasab beliau dalam sebagian kitab disebutkan secara lengkap: Aḥmad bin ‘Alī bin Muḥammad bin Muḥammad bin ‘Alī bin Maḥmūd bin Aḥmad. Perbedaan penyebutan kakek-kakek (ajdād) ini wajar terjadi di sebagian kitab, ada yang menyebutkan secara ringkas dan ada yang secara lengkap.

Jika antum perhatikan silsilah nama beliau yang lengkap, urutannya seperti terbalik bagaikan sebuah cermin: Aḥmad bin ‘Alī bin Muḥammad bin Muḥammad bin ‘Alī bin Aḥmad.

Lantas, dari mana beliau dikenal dengan sebutan Ibnu Hajar? Salah satu murid beliau menyebutkan bahwa "Ibnu Hajar" adalah laqab dari salah satu kakeknya. Dari silsilah kakek-kakek yang disebutkan tadi, ada yang dijuluki dengan laqab Hajar. Sehingga, keturunan beliau dikenal dengan sebutan Ibnu Hajar.

Adapun nisbah "al-Asqalānī", ini dinisbatkan kepada Asqalān, yaitu nama sebuah kota di Palestina, dekat dengan Gaza. Namun, bukan berarti beliau lahir di Palestina. Nisbah ini kembali kepada kakek-kakek beliau yang dulunya merupakan orang Asqalān. Adapun Ibnu Hajar sendiri dilahirkan di Mesir pada tanggal 12 Sya’bān tahun 773 Hijriyah, atau sekitar 700 tahun yang lalu. Beliau tumbuh besar di Mesir. Kedua orang tuanya meninggal ketika beliau masih kecil; ibunya wafat lebih dulu, disusul oleh ayahnya.

Di antara yang menunjukkan kecerdasan beliau adalah beliau telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’ān di usia 9 tahun. Pada usia yang belia tersebut, beliau juga telah menghafal banyak matan-matan ilmu.

Perjalanan ringkas beliau dalam menuntut ilmu sangatlah luas. Beliau pergi ke Makkah dan Madinah (al-Ḥaramain asy-Syarīfain), kemudian ke Damaskus, Baitul Maqdis, dan juga menuntut ilmu ke Shan’a di Yaman.

Karya-karya beliau secara umum mencapai sekitar 150 tulisan. Karya beliau yang paling terkenal adalah Fatḥul Bārī, yaitu syarah (penjelasan) untuk Ṣaḥīḥ al-Bukhāri. Di antara karya beliau yang lainnya adalah Tahdzīb at-Tahdzīb, yang merupakan kumpulan biografi para rijālul ḥadīts. Beliau juga menulis kitab Al-Iṣābah fī Tamyīz as-Ṣaḥābah, yang membahas biografi para sahabat رضي الله عنهم. Dan tentu saja, kitab yang akan kita pelajari ini, Bulughul Marām min Adillatil Aḥkām, termasuk karya beliau yang sangat terkenal.

Di antara murid beliau yang paling terkenal adalah Al-‘Allāmah as-Sakhāwī رحمه الله. Beliau inilah yang menulis biografi tentang gurunya, Ibnu Hajar, dalam sebuah kitab yang berjudul Al-Jauhar wad-Durar fī Tarjamatil Ḥāfiẓh Ibnu Hajar. Bagi yang ingin merujuk biografi Ibnu Hajar رحمه الله secara lebih lengkap, bisa merujuk kepada kitab Al-Jauhar karya as-Sakhāwī tersebut.

📌 Keistimewaan Kitab Bulughul Marām

Sekilas tentang kitab Bulughul Marām, kitab ini adalah kumpulan hadis-hadis yang berkenaan dengan adillatul aḥkām (dalil-dalil hukum fiqih). Jumlah hadis di dalamnya sekitar 1.500 hadis. Penomorannya mungkin berbeda-beda di berbagai cetakan, karena terkadang ada penerbit yang menggabungkan dua hadis pendek menjadi satu nomor, namun hal itu tidak menjadi masalah. Kitab ini termasuk kitab yang masyhur, penuh berkah, dan sangat bermanfaat bagi kaum muslimin.

📌 Kitab Bulughul Marām memiliki beberapa keistimewaan, di antaranya:

📍 Pertama, penulisnya menyebutkan derajat hadis. Setelah menyebutkan hadis, di belakangnya terdapat keterangan apakah hadis tersebut ṣaḥīḥ, ḥasan, atau ḍa'īf. Ini sangat memudahkan pembaca.

📍 Kedua, penulisnya mencukupkan pada lafaz yang dijadikan dalil saja. Beliau meringkas hadis yang panjang dengan hanya mengambil bagian yang menjadi pendalilan dari bab tersebut. Hal ini membuat kitab menjadi ringkas, tidak berjilid-jilid seperti kitab hadis lainnya, namun tetap padat berisi.

📍 Ketiga, apabila ada riwayat lain yang memiliki tambahan lafaz (ziyādah) yang berfaedah, maka akan langsung ditambahkan dengan keterangan wa fī riwāyah (dan di dalam riwayat yang lain).

📍 Keempat, Ibnu Hajar رحمه الله menyaring dan menyeleksi hadis-hadisnya hanya dari kitab-kitab hadis yang terkenal (Kutubul Ḥadīts al-Masyhūrah), seperti Ṣaḥīḥain (Bukhāri dan Muslim), Sunan Abī Dāwūd, Tirmidzi, An-Nasā'ī, Ibnu Mājah, Musnad Aḥmad, dan yang lainnya. Sehingga kita akan mudah merujuknya.

📍 Kelima, beliau sering mengedepankan hadis dari Ṣaḥīḥain di awal setiap babnya. Ini menjadikan 'umdah (pondasi) hadis dari pembahasan satu bab adalah hadis yang paling sahihnya, baik itu muttafaqun 'alaih atau dari salah satu dari keduanya.

📍 Keenam, beliau menyusun bab-bab kitabnya berdasarkan urutan bab-bab fiqih (seperti Thahārah, Ṣalāt, dan seterusnya). Namun, di bagian akhir, beliau menambahkan kumpulan hadis-hadis tentang adab dan akhlak yang dikenal dengan Kitābul Jāmi'. Sehingga faedah kitab ini semakin meluas, tidak hanya sebatas fiqih, tetapi juga mencakup adab dan akhlak.

Karena keistimewaan-keistimewaan ini, kitab Bulughul Marām disyarah oleh banyak ulama, baik terdahulu maupun sekarang, seperti Syaikh Ibnu ‘Utsaimīn رحمه الله, Syaikh Bin Bāz رحمه الله, dan Syaikh Ṣāliḥ al-Fauzān حفظه الله. Kitab ini juga hampir selalu menjadi kurikulum di setiap markas ilmu atau pondok pesantren.

⚠️ Syarah Mukadimah Penulis

Selanjutnya, kita masuk ke mukadimah (pendahuluan) yang ditulis oleh Ibnu Hajar رحمه الله. Sebelum masuk kepada hadis yang pertama, beliau membuka dengan kalimat yang sangat agung:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، قَدِيمًا وَحَدِيثًا.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ مُحَمَّدٍ، وَآلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِينَ سَارُوا فِي نَصْرِ دِينِهِ سَيْرًا حَثِيثًا.

Kita mencoba mensyarah kalimat-kalimat ini dengan mengutip dari beberapa kitab syarah.

Setelah basmalah, beliau mengucapkan الْحَمْدُ لِلَّهِ. Perhatikan adanya alif lām (ال) pada kata al-ḥamdu. Ini disebut dengan alif lām lil istighrāq, yaitu alif lām yang bermakna mencakup keseluruhan. Ciri alif lām istighrāqiyah adalah al (ال) tersebut bisa diubah menjadi kata kullu (seluruh/segala). Jadi, al-ḥamdu bermakna kullu ḥamd (segala pujian).

Apa itu al-ḥamd? Para ulama mendefinisikan:

هُوَ وَصْفُ الْمَحْمُودِ بِالْكَمَالِ مَعَ الْمَحَبَّةِ وَالتَّعْظِيمِ
“Al-ḥamd adalah mensifati yang dipuji dengan kesempurnaan, disertai dengan rasa cinta dan pengagungan.”

Mengapa harus disertai mahabbah (cinta) dan ta'zhīm (pengagungan)? Karena ada pujian yang tidak disertai dengan keduanya, misalnya seseorang memuji raja karena takut atau mengharapkan harta. Pujian semacam ini disebut al-madḥu (pujian biasa). Adapun al-ḥamd adalah pujian yang diiringi dengan kecintaan dan pengagungan.

Kemudian kalimat lillāh (لله). Lām di sini bermakna lām lil ikhtiṣāṣ (pengkhususan) atau lām lil istihqāq (kelayakan). Artinya, segala pujian yang sempurna itu hanyalah khusus milik Allāh ﷻ, atau hanya Allāh ﷻ yang paling berhak mendapatkannya. Allāh ﷻ Maha Mengetahui dengan ilmu yang paling sempurna, tidak seperti ilmu makhluk-Nya. Maka, pujian yang kāmil (sempurna) hanya pantas ditujukan kepada Allāh ﷻ.

Selanjutnya, عَلَى نِعَمِهِ (atas nikmat-nikmat-Nya). Ni'am adalah jamak dari نِعْمَةٌ (kenikmatan). Kenikmatan Allāh ﷻ terbagi dua: aẓ-ẓāhirah (yang nampak) dan al-bāṭinah (yang tersembunyi). Kenikmatan yang zhahir adalah apa yang terlihat oleh manusia, seperti keamanan, kelapangan rezeki, kekuatan fisik, makan, dan minum. Adapun kenikmatan yang batin adalah apa yang tidak dilihat orang lain, seperti nikmatnya iman, ketenangan hati, tawakal, dan keyakinan.

Kemudian kata قَدِيمًا وَحَدِيثًا (baik yang terdahulu maupun yang baru/akan datang). Kita memuji Allāh ﷻ atas nikmat yang sedang kita rasakan, yang telah lalu, maupun yang akan datang. Allāh ﷻ berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. Ibrāhīm: 34)

Jika nikmat yang sekarang saja tidak mampu kita hitung, apalagi nikmat qadīman (yang telah lalu sejak kita lahir). Hal ini menyadarkan kita bahwa selama ini kita sangat kurang dalam bersyukur. Kita sering lupa mensyukuri nikmat ibadah yang pernah kita rasakan di masa lalu, dan hanya mengingat kesusahan yang sedang dihadapi saat ini.

📌 Memaknai Shalawat dan Salam kepada Nabi ﷺ

Setelah memuji Allāh ﷻ, Ibnu Hajar رحمه الله bershalawat: وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ مُحَمَّدٍ... (Selawat dan salam kepada Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad...).

Apa makna ash-shalāt (shalawat)? Definisi yang paling bagus tentang makna shalawat adalah perkataan Abul 'Āliyah رحمه الله yang diriwayatkan oleh Al-Imām Bukhāri رحمه الله:

صَلَاةُ اللَّهِ ثَنَاؤُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَلَائِكَةِ، وَصَلَاةُ الْمَلَائِكَةِ الدُّعَاءُ
“Shalawat Allāh ﷻ adalah pujian-Nya kepada Nabi ﷺ di hadapan para malaikat. Sedangkan shalawat para malaikat (dan makhluk lainnya) adalah doa.”

Jadi, makna shalawat berbeda jika dinisbatkan kepada Allāh ﷻ dan kepada makhluk-Nya. Jika Allāh ﷻ bershalawat, maknanya adalah Allāh ﷻ memuji Nabi ﷺ di hadapan para malaikat-Nya. Adapun jika kita atau para malaikat bershalawat, maknanya adalah kita berdoa untuk Nabi ﷺ. Syaikh Ibnu ‘Utsaimīn رحمه الله menyebutkan bahwa sebagian ulama juga menafsirkan shalawat sebagai raḥmah khāṣṣah (rahmat yang khusus) bagi Nabi ﷺ, berbeda dengan rahmat umum bagi makhluk lainnya.

Adapun as-salām (salam), maknanya adalah keselamatan, yaitu mendoakan keselamatan Nabi ﷺ dari segala musibah dan kekurangan.

📌 Faidah: Penyebutan Nama Nabi ﷺ di dalam Al-Qur’ān

Terdapat faedah menarik dari lafaz nama Muḥammad dalam mukadimah ini. Pertanyaan, Berapa kali lafaz "Muḥammad" disebutkan di dalam Al-Qur’ān?

Lafaz Muḥammad disebutkan di dalam Al-Qur’ān sebanyak empat kali, yaitu:

1. QS. Āli ‘Imrān ayat 144
2. QS. Al-Aḥzāb ayat 40
3. QS. Muḥammad ayat 2
4. QS. Al-Fatḥ ayat 29

Adapun nama beliau yang lain, yaitu "Aḥmad", disebutkan satu kali di dalam QS. Aṣ-Ṣaff ayat 6.

Mungkin untuk sementara waktu kita cukupkan pembahasan mukadimah ini. Sambil menunggu, insyaAllāh pada pertemuan berikutnya antum semua sudah lebih banyak yang memegang kitab Bulughul Marām agar kita bisa langsung masuk ke hadis-hadisnya.

Channel :
https://t.me/santridaarulatsaarpwk
https://whatsapp.com/channel/0029Vb7q5LDHbFV86iufx426

🔗https://t.me/Faedah_Al_Ustadz_Mahmud_Barjib
🔗https://whatsapp.com/channel/0029VbBZHEq1yT2BlciPqG0R
🔗 https://www.facebook.com/share/1abipYntqW/
🔗 https://t.me/salafypurwakarta
🔗 https://t.me/firqotun_naajiyah
baca selanjutnya “Bulughul Maram 001”

Selasa, 22 September 2026

Sedekah Bukti Keimanan Hamba

📝 TRANSKRIP KHUTBAH JUM'AT 

💺🎙 Al-Ustadz Abu Mu'awiyah Idris-hafizhahullah-

🔰 Tema :
"Sedekah merupakan bukti kejujuran iman orang yang bersedekah"

🗓 Jum'at, 08 Rabiul Awwal 1448 H / 21 Agustus 2026 M

🕌 Masjid Al-Khoir Ma'had Daarul Atsaar Purwakarta

#khutbahjumat@salafypurwakarta



Khutbah Pertama 

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. 
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ، 
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. 
'Ibadallah, kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. 

Rasulullah ﷺ bersabda:
الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ
"Sedekah merupakan burhan, merupakan bukti. (HR. Ahmad) 

Bukti bagi apa? Disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله: 

أَيْ دَلِيلٌ عَلَى صِدْقِ إِيمَانِ الْمُتَصَدِّقِ.
Itu adalah bukti atas jujurnya, benarnya keimanan orang yang melakukan sedekah tersebut. [Syarah Riyadhus Shalihin]

Karena orang yang bersedekah, atau ketika orang beriman mereka bersedekah, mereka meyakini janji-janji Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Mereka yakin sedekah mereka akan dibalas oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:

وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Dan apa yang kalian infakkan dari kebaikan (dari harta) maka akan dibalas, akan diganjar untuk kalian dan kalian tidak akan dizalimi. (QS. Al-Baqarah: 272) 

Inilah ganjaran ketika seorang beriman, ketika mereka mengeluarkan sedekah, mereka yakin Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan membalasnya di akhirat, dan bahkan mereka yakin yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى membalasnya dengan berlipat-lipat ganda, berkali-kali lipat. Sebagaimana firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ 
permisalan orang-orang yang menginfakkan harta-harta mereka di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah seperti orang yang menanam satu benih kemudian benih tersebut menumbuhkan, mengeluarkan tujuh ranting dan di setiap rantingnya memiliki seratus biji. (QS. Al-Baqarah: 261) 

Inilah pahala yang sangat besar, bahkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bisa memberikan pahala lebih dari itu:

وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ 
​"Dan Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261) 

Inilah balasan bagi mereka yang bersedekah di jalan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Bahkan balasan dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bukan hanya sebatas di akhirat, tetapi mereka pun (orang-orang yang bersedekah) mereka mendapatkan balasan di dunia. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ 
Dan apa yang kalian infakkan dari sesuatu (dari harta benda) maka Allah yang akan memberikan  gantinya (memberikan iwadl, memberikan badal) dan Allahlah sebaik-baik pemberi rezeki. (QS. Saba': 39) 

Dikatakan oleh Al-Imam Al-Kalbi di dalam tafsir ayat ini: 

وَهُوَ يُخْلِفُهُ عَلَى الْمُنْفِقِ. أَمَّا أَنْ يُعَجِّلَهُ لَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ
Dan Allahlah yang akan memberikan ganti kepada orang-orang yang bersedekah tersebut. dan bisa jadi diganti disegerakan harta tersebut dilipatgandakan di dunia, dan bisa jadi adalah disimpan sebagai pahala kelak di akhirat. (Tafsir Ath-Thabari) 

Dan juga bisa jadi keduanya. Inilah balasan yang akan diterima oleh orang-orang yang menginjakkan, mensedekahkan hartanya di jalan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. 

Rasulullah ﷺ juga menyebutkan tentang orang-orang yang bersedekah akan mendapatkan ganti sebagaimana disebutkan di dalam hadits. 

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ 
"Tidaklah setiap hari yang hamba berada di pagi hari tersebut pada hari tersebut, kecuali pada hari tersebut, di pagi hari tersebut dua malaikat turun,

فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللّٰهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا
maka salah satu dari malaikat tersebut mengatakan: Ya Allah berikanlah orang-orang yang berinfak gantinya.

وَيَقُولُ الْآخَرُ اللّٰهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
Dan berkata malaikat yang lain: Ya Allah berikanlah orang-orang yang menahan hartanya dari yang seharusnya dikeluarkan secara wajib yaitu berilah talafa (kehancuran, kerusakan, baik rusak fisiknya maupun barokahnya). (HR. Bukhari dan Muslim) 

Maka inilah janji Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan juga apa yang diucapkan oleh Rasulullah ﷺ, tentang 
sedekah pada hakikatnya tidak mengurangi harta seseorang. Rasulullah ﷺ

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
"Sedekah itu tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim) 

Bisa jadi maknanya adalah sebagaimana disebutkan Al-Imam Nawawi رحمه الله []،

أَنَّهُ يُبَارِكُ فِيهِ وَيُدْفَعُ عَنْهُ  الْمَضَرَّاتُ
"Bahwasanya Dia memberkahi nya. Dan ditolak (dijauhkan) dari dirinya berbagai kemudharatan (keburukan)." (Syarh Shahih Muslim) 

Jadi, hartanya walaupun secara fisik nominal berkurang tetapi diberikan barokah, dan bisa jadi dengan sebab sedekah tersebut walaupun secara fisik berkurang hartanya tetapi dia dicegah dari bencana-bencana. Walaupun secara fisik berkurang, tetapi pahala yang diberikan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak sebanding dari harta yang berkurang (karena sedekah). Dan bisa jadi ini adalah benar-benar tidak berkurang artinya setelah itu adalah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan ganti harta tersebut dan bahkan dengan ganti berkali-kali lipat.


Khutbah Ke Dua 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى

Telah disebutkan bahwasanya seseorang yang dia bersedekah maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan berikan pahala berkali-kali lipat, sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Bahkan bisa lebih dari itu. Maka seseorang ketika bersedekah pahalanya berbeda-beda sesuai dengan keikhlasan, sesuai dengan kondisi seseorang dan keadaan seseorang. Maka pada kesempatan kali ini kita akan sebutkan beberapa keadaan yang sadaqah menjadi lebih afdhal, lebih besar pahalanya ketika dilakukan di keadaan tersebut. 

Keadaan yang pertama adalah ketika seseorang bersedekah dalam keadaan sahih, dalam keadaan sehat maka pahalanya lebih besar. Rasulullah ﷺ ketika itu datang seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ

يَا رَسُولُ اللّٰهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا
"Wahai Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?"

Maka dijawab oleh Rasulullah ﷺ. 

أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ
"Engkau bersedekah dalam keadaan sehat dan dalam keadaan engkau ketika itu kikir dan bakhil (memiliki perasaan berat untuk mengeluarkan harta)." (HR. Bukhari dan Muslim) 

Dan ini adalah sesuatu yang berkaitan. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat mereka pelit untuk bersedekah. Sebaliknya orang yang dalam keadaan sakit, orang yang sudah tua renta, sudah tidak muda lagi, maka mereka lebih ingat kepada kematian, lebih mudah untuk mengeluarkan sedekah. Maka sedekah yang lebih besar pahalanya adalah ketika dia mulai bersedekah dalam kondisi dia masih sehat, atau dia sudah mulai bersedekah dalam kondisi dia masih muda, karena biasanya yang muda, mereka memiliki badannya masih sehat (merasa jauh dari kematian).

Kemudian keadaan yang lainnya, yang menjadikan sedekah menjadi lebih besar pahalanya adalah ketika dia bersedekah sirriyyah, ketika dia bersedekah sembunyi-sembunyi. Walaupun ini bukan secara mutlak, tetapi secara umum sedekah dengan sembunyi-sembunyi ini adalah lebih baik dibandingkan bersedekah dengan terang-terangan. Walaupun ada kondisi-kondisi tertentu, yang ketika seseorang bersedekah terang-terangan itu adalah lebih baik, misalkan agar يُقْتَدَى بِهِ, "agar orang lain bisa mengikutinya," memberikan motivasi agar orang lain ikut sedekah. Tetapi secara umum Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:

إِن تُبْدُوا۟ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِىَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُوهَا ٱلْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ 
"Jika kalian tampakkan sedekah kalian maka itu baik, dan jika kalian sembunyikan dan diberikan kepada orang-orang fakir, orang-orang yang membutuhkan, maka itu adalah lebih baik untuk kalian." (QS. Al-Baqarah 271)

Rasulullah ﷺ bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ
" Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pada hari yang tidak ada naungan melainkan dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى." 

di antaranya adalah:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
" Seseorang yang bersedekah dengan sebuah sedekah kemudian dia sembunyikan bahkan tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya." (HR. Bukhari dan Muslim) 

Kemudian keadaan berikutnya, kondisi yang menyebabkan sedekah itu adalah lebih afdhal adalah ketika sedekah tersebut diberikan kepada orang yang membutuhkan dan apalagi orang yang membutuhkan tersebut adalah kerabat dekatnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ
"Bersedekah terhadap orang miskin yang tidak mampu itu adalah sedekah, dan bersedekah kepada orang yang memiliki silaturahmi, kepada kerabatnya, maka ada dua faedah, yaitu adalah pahala sedekah dan juga menyambung tali silaturahmi. (HR. Tirmidzi) 

Kemudian keadaan yang keempat, yang menyebabkan seseorang ketika bersedekah pada kondisi tersebut itu lebih afdhal adalah جُهْدُ الْمُقِلِّ, yaitu ketika seseorang dalam keadaan kekurangan, dalam keadaan hartanya sedikit tetapi dia tetap berkorban dan tetap berusaha untuk bersedekah.

Rasulullah ﷺ ditanya: "Sedekah yang seperti apa yang afdal?" 
Maka beliau menjawab : جُهْدُ الْمُقِلِّ Adalah orang yang dalam keadaan muqill, hartanya sedikit tetapi dia tetap berusaha untuk bersedekah. (HR. Bukhari dan Muslim) 

Tentunya sedekah tidak berarti dinilai dari nominalnya, dari berapa besarnya, tetapi dari pengorbanan dia. Sedekah sepuluh ribu dari orang yang memiliki seratus ribu tentunya ini lebih besar pahalanya dibandingkan sedekah sepuluh ribu dari orang yang memiliki jutaan. Tentunya ketika keduanya sama-sama ikhlas, tentunya yang mengerahkan pengorbanan lebih besar, maka ini adalah lebih besar pahalanya. 

Kemudian sedekah yang berikutnya, yang manfaatnya lebih besar, lebih afdhal adalah صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ, sedekah yang dia menyedekahkan harta atau benda kemudian harta tersebut dan benda tersebut masih terus dipergunakan dan mendatangkan pahala yang mengalir. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ...... إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ 
"Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga.... Dan di antaranya adalah shadaqatun jariyah." (HR. Muslim) 

Maka ini adalah di antara beberapa kondisi yang menyebabkan sedekah lebih besar, lebih afdhal pahalanya, yaitu apa yang telah kita sebutkan dan tentunya ini bukanlah pembatasan, masih ada lagi kondisi-kondisi lainnya. Kondisi yang menyebabkan sedekah lebih afdal dan lebih besar pahalanya. 

Kita memohon kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikan kita semua orang-orang yang mudah dan diberikan pertolongan untuk bisa melakukan sedekah. 

أَقِمِ الصَّلَاةَ
baca selanjutnya “Sedekah Bukti Keimanan Hamba”

Jumat, 20 Februari 2026

Menyambut Ramadhan

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du:

Nabi kita ﷺ dahulu memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan datangnya bulan Ramadan yang penuh berkah. Beliau bersabda:

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh keberkahan. Dibuka di dalamnya pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa terhalang dari kebaikannya, maka sungguh ia telah terhalang (dari kebaikan yang besar).”

Bulan yang mulia ini adalah kesempatan besar bagi seorang hamba untuk kembali kepada Rabbnya, bertaubat, kembali dan bersungguh-sungguh menghadap kepada Tuhan yang telah menciptakannya. Maka seorang mukmin hendaknya berhenti sejenak mengevaluasi dirinya dan membuka lembaran baru dengan taubat yang tulus dan ikhlas karena Allah Ta’ala.

Di antara hal terpenting dalam menyambut bulan ini adalah menyadari bahwa ketika Allah masih mempertemukan kita dengan Ramadan, itu adalah nikmat yang sangat besar. Betapa banyak orang yang tidak sampai kepada bulan ini, atau tidak diberi taufik untuk berpuasa, atau tidak termasuk orang yang memanfaatkannya dengan baik. Maka sampainya kita kepada Ramadan adalah nikmat agung, dan hak nikmat itu adalah disyukuri.

Syukur atas nikmat secara umum dilakukan dengan hati, lisan, dan anggota badan.

  • Syukur dengan lisan: menyadari bahwa ini murni karunia Allah, lalu memuji dan bersyukur kepada-Nya.
  • Syukur dengan hati: meyakini bahwa semua nikmat itu datang dari Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.
  • Syukur dengan amal: menunaikan kewajiban puasa dengan benar, sesuai cara yang diridhai Allah.

Sebagaimana diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu: “Jika engkau berpuasa, maka hendaklah lisanmu, pendengaranmu, dan penglihatanmu ikut berpuasa. Jauhilah dusta dan dosa. Jauhilah menyakiti tetangga dan pelayan.”

Puasa bukan sekadar meninggalkan makan dan minum. Dalam hadis disebutkan bahwa Allah tidak butuh seseorang meninggalkan makan dan minumnya jika ia tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa. Puasa yang hakiki adalah puasa dari maksiat dan dosa. Bersihkan hati, lisan, dan seluruh anggota badan dari kesalahan di bulan ini.

Kita semua adalah hamba yang penuh dosa dan kekurangan. Di antara nikmat terbesar dari Allah adalah adanya musim-musim kebaikan seperti Ramadan. Kita akan ditanya tentang umur kita, dan umur itu termasuk kesempatan-kesempatan emas seperti Ramadan.

Allah mempergantikan bagi hamba-Nya musim-musim ibadah: Ramadan, Syawal, Sya’ban, musim haji, bulan-bulan haram, hari raya, dan lainnya. Orang yang berbahagia adalah yang memanfaatkan semua itu untuk kebaikan.

Di bulan ini, seorang hamba wajib mengikhlaskan niat hanya karena Allah. Jangan berpuasa kecuali untuk Allah. Jangan berdoa kecuali kepada Allah. Jangan mengharap balasan kecuali dari Allah. Puasa, sedekah, membaca Al-Qur’an, shalat, dan semua amal harus murni karena Allah, bukan karena riya atau ingin dipuji.

Termasuk hal penting dalam menyambut Ramadan adalah menguatkan tekad untuk beramal saleh. Niatkan dalam hati untuk berbuat baik: khatam Al-Qur’an, rajin ke masjid, menjaga shalat. Jika seseorang sudah berniat kuat namun terhalang karena uzur, tetap dicatat baginya pahala sesuai niatnya.

Sebagian orang mengira Ramadan hanya siang hari saja. Di siang hari ia menjaga diri, namun di malam hari tenggelam dalam tontonan, gosip, dan menyia-nyiakan waktu. Padahal Ramadan seluruhnya penuh berkah, siang dan malamnya. Bahkan sepuluh malam terakhir lebih utama karena di dalamnya ada Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan beliau paling dermawan ketika Ramadan. Kedermawanan itu mencakup segala bentuk kebaikan: sedekah, membaca Al-Qur’an, silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga, dan semua amal kebajikan.

Hal penting lainnya adalah mempelajari hukum-hukum puasa. Jangan beribadah tanpa ilmu. Pelajari sunnah Nabi ﷺ, ketahui apa yang membatalkan puasa, apa yang wajib dijauhi, dan apa yang boleh dilakukan. Jika ragu, bertanyalah kepada ahli ilmu.

Terakhir, perbanyaklah doa agar Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang diterima amalnya. Bisa jadi seseorang letih berpuasa di siang hari dan qiyam di malam hari, namun tidak diterima. Sungguh kerugian besar jika amal tidak diterima.

Keuntungan sejati adalah ketika Allah menerima amal kita. Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa. Maka mohonlah kepada Allah agar menerima puasa, doa, shalat, dan bacaan Al-Qur’an kita. Akui kekurangan diri meski telah banyak beramal.

Inti Ramadan adalah membuka pintu baru untuk kembali kepada Allah. Kita tidak tahu kapan ajal datang. Bisa jadi kita tidak sempat bangun dari tempat duduk kita, atau tidak sempat melihat esok hari. Semua itu dalam ilmu Allah.

Semoga Allah menutup hidup kita dengan kebaikan, menjadikan kita termasuk orang-orang yang diterima amalnya di bulan ini, dan mengampuni kita serta kedua orang tua kita.

Wallahu a’lam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ.


(disarikan dari nasihat syaikh Kholid adz-Dzafiri)

baca selanjutnya “Menyambut Ramadhan”