Tampilkan postingan dengan label khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label khutbah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 September 2026

Sedekah Bukti Keimanan Hamba

📝 TRANSKRIP KHUTBAH JUM'AT 

💺🎙 Al-Ustadz Abu Mu'awiyah Idris-hafizhahullah-

🔰 Tema :
"Sedekah merupakan bukti kejujuran iman orang yang bersedekah"

🗓 Jum'at, 08 Rabiul Awwal 1448 H / 21 Agustus 2026 M

🕌 Masjid Al-Khoir Ma'had Daarul Atsaar Purwakarta

#khutbahjumat@salafypurwakarta



Khutbah Pertama 

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. 
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ، 
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. 
'Ibadallah, kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. 

Rasulullah ﷺ bersabda:
الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ
"Sedekah merupakan burhan, merupakan bukti. (HR. Ahmad) 

Bukti bagi apa? Disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله: 

أَيْ دَلِيلٌ عَلَى صِدْقِ إِيمَانِ الْمُتَصَدِّقِ.
Itu adalah bukti atas jujurnya, benarnya keimanan orang yang melakukan sedekah tersebut. [Syarah Riyadhus Shalihin]

Karena orang yang bersedekah, atau ketika orang beriman mereka bersedekah, mereka meyakini janji-janji Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Mereka yakin sedekah mereka akan dibalas oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:

وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Dan apa yang kalian infakkan dari kebaikan (dari harta) maka akan dibalas, akan diganjar untuk kalian dan kalian tidak akan dizalimi. (QS. Al-Baqarah: 272) 

Inilah ganjaran ketika seorang beriman, ketika mereka mengeluarkan sedekah, mereka yakin Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan membalasnya di akhirat, dan bahkan mereka yakin yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى membalasnya dengan berlipat-lipat ganda, berkali-kali lipat. Sebagaimana firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ 
permisalan orang-orang yang menginfakkan harta-harta mereka di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah seperti orang yang menanam satu benih kemudian benih tersebut menumbuhkan, mengeluarkan tujuh ranting dan di setiap rantingnya memiliki seratus biji. (QS. Al-Baqarah: 261) 

Inilah pahala yang sangat besar, bahkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bisa memberikan pahala lebih dari itu:

وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ 
​"Dan Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261) 

Inilah balasan bagi mereka yang bersedekah di jalan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Bahkan balasan dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bukan hanya sebatas di akhirat, tetapi mereka pun (orang-orang yang bersedekah) mereka mendapatkan balasan di dunia. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ 
Dan apa yang kalian infakkan dari sesuatu (dari harta benda) maka Allah yang akan memberikan  gantinya (memberikan iwadl, memberikan badal) dan Allahlah sebaik-baik pemberi rezeki. (QS. Saba': 39) 

Dikatakan oleh Al-Imam Al-Kalbi di dalam tafsir ayat ini: 

وَهُوَ يُخْلِفُهُ عَلَى الْمُنْفِقِ. أَمَّا أَنْ يُعَجِّلَهُ لَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ
Dan Allahlah yang akan memberikan ganti kepada orang-orang yang bersedekah tersebut. dan bisa jadi diganti disegerakan harta tersebut dilipatgandakan di dunia, dan bisa jadi adalah disimpan sebagai pahala kelak di akhirat. (Tafsir Ath-Thabari) 

Dan juga bisa jadi keduanya. Inilah balasan yang akan diterima oleh orang-orang yang menginjakkan, mensedekahkan hartanya di jalan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. 

Rasulullah ﷺ juga menyebutkan tentang orang-orang yang bersedekah akan mendapatkan ganti sebagaimana disebutkan di dalam hadits. 

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ 
"Tidaklah setiap hari yang hamba berada di pagi hari tersebut pada hari tersebut, kecuali pada hari tersebut, di pagi hari tersebut dua malaikat turun,

فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللّٰهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا
maka salah satu dari malaikat tersebut mengatakan: Ya Allah berikanlah orang-orang yang berinfak gantinya.

وَيَقُولُ الْآخَرُ اللّٰهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
Dan berkata malaikat yang lain: Ya Allah berikanlah orang-orang yang menahan hartanya dari yang seharusnya dikeluarkan secara wajib yaitu berilah talafa (kehancuran, kerusakan, baik rusak fisiknya maupun barokahnya). (HR. Bukhari dan Muslim) 

Maka inilah janji Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan juga apa yang diucapkan oleh Rasulullah ﷺ, tentang 
sedekah pada hakikatnya tidak mengurangi harta seseorang. Rasulullah ﷺ

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
"Sedekah itu tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim) 

Bisa jadi maknanya adalah sebagaimana disebutkan Al-Imam Nawawi رحمه الله []،

أَنَّهُ يُبَارِكُ فِيهِ وَيُدْفَعُ عَنْهُ  الْمَضَرَّاتُ
"Bahwasanya Dia memberkahi nya. Dan ditolak (dijauhkan) dari dirinya berbagai kemudharatan (keburukan)." (Syarh Shahih Muslim) 

Jadi, hartanya walaupun secara fisik nominal berkurang tetapi diberikan barokah, dan bisa jadi dengan sebab sedekah tersebut walaupun secara fisik berkurang hartanya tetapi dia dicegah dari bencana-bencana. Walaupun secara fisik berkurang, tetapi pahala yang diberikan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak sebanding dari harta yang berkurang (karena sedekah). Dan bisa jadi ini adalah benar-benar tidak berkurang artinya setelah itu adalah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan ganti harta tersebut dan bahkan dengan ganti berkali-kali lipat.


Khutbah Ke Dua 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى

Telah disebutkan bahwasanya seseorang yang dia bersedekah maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan berikan pahala berkali-kali lipat, sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Bahkan bisa lebih dari itu. Maka seseorang ketika bersedekah pahalanya berbeda-beda sesuai dengan keikhlasan, sesuai dengan kondisi seseorang dan keadaan seseorang. Maka pada kesempatan kali ini kita akan sebutkan beberapa keadaan yang sadaqah menjadi lebih afdhal, lebih besar pahalanya ketika dilakukan di keadaan tersebut. 

Keadaan yang pertama adalah ketika seseorang bersedekah dalam keadaan sahih, dalam keadaan sehat maka pahalanya lebih besar. Rasulullah ﷺ ketika itu datang seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ

يَا رَسُولُ اللّٰهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا
"Wahai Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?"

Maka dijawab oleh Rasulullah ﷺ. 

أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ
"Engkau bersedekah dalam keadaan sehat dan dalam keadaan engkau ketika itu kikir dan bakhil (memiliki perasaan berat untuk mengeluarkan harta)." (HR. Bukhari dan Muslim) 

Dan ini adalah sesuatu yang berkaitan. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat mereka pelit untuk bersedekah. Sebaliknya orang yang dalam keadaan sakit, orang yang sudah tua renta, sudah tidak muda lagi, maka mereka lebih ingat kepada kematian, lebih mudah untuk mengeluarkan sedekah. Maka sedekah yang lebih besar pahalanya adalah ketika dia mulai bersedekah dalam kondisi dia masih sehat, atau dia sudah mulai bersedekah dalam kondisi dia masih muda, karena biasanya yang muda, mereka memiliki badannya masih sehat (merasa jauh dari kematian).

Kemudian keadaan yang lainnya, yang menjadikan sedekah menjadi lebih besar pahalanya adalah ketika dia bersedekah sirriyyah, ketika dia bersedekah sembunyi-sembunyi. Walaupun ini bukan secara mutlak, tetapi secara umum sedekah dengan sembunyi-sembunyi ini adalah lebih baik dibandingkan bersedekah dengan terang-terangan. Walaupun ada kondisi-kondisi tertentu, yang ketika seseorang bersedekah terang-terangan itu adalah lebih baik, misalkan agar يُقْتَدَى بِهِ, "agar orang lain bisa mengikutinya," memberikan motivasi agar orang lain ikut sedekah. Tetapi secara umum Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:

إِن تُبْدُوا۟ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِىَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُوهَا ٱلْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ 
"Jika kalian tampakkan sedekah kalian maka itu baik, dan jika kalian sembunyikan dan diberikan kepada orang-orang fakir, orang-orang yang membutuhkan, maka itu adalah lebih baik untuk kalian." (QS. Al-Baqarah 271)

Rasulullah ﷺ bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ
" Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pada hari yang tidak ada naungan melainkan dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى." 

di antaranya adalah:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
" Seseorang yang bersedekah dengan sebuah sedekah kemudian dia sembunyikan bahkan tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya." (HR. Bukhari dan Muslim) 

Kemudian keadaan berikutnya, kondisi yang menyebabkan sedekah itu adalah lebih afdhal adalah ketika sedekah tersebut diberikan kepada orang yang membutuhkan dan apalagi orang yang membutuhkan tersebut adalah kerabat dekatnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ
"Bersedekah terhadap orang miskin yang tidak mampu itu adalah sedekah, dan bersedekah kepada orang yang memiliki silaturahmi, kepada kerabatnya, maka ada dua faedah, yaitu adalah pahala sedekah dan juga menyambung tali silaturahmi. (HR. Tirmidzi) 

Kemudian keadaan yang keempat, yang menyebabkan seseorang ketika bersedekah pada kondisi tersebut itu lebih afdhal adalah جُهْدُ الْمُقِلِّ, yaitu ketika seseorang dalam keadaan kekurangan, dalam keadaan hartanya sedikit tetapi dia tetap berkorban dan tetap berusaha untuk bersedekah.

Rasulullah ﷺ ditanya: "Sedekah yang seperti apa yang afdal?" 
Maka beliau menjawab : جُهْدُ الْمُقِلِّ Adalah orang yang dalam keadaan muqill, hartanya sedikit tetapi dia tetap berusaha untuk bersedekah. (HR. Bukhari dan Muslim) 

Tentunya sedekah tidak berarti dinilai dari nominalnya, dari berapa besarnya, tetapi dari pengorbanan dia. Sedekah sepuluh ribu dari orang yang memiliki seratus ribu tentunya ini lebih besar pahalanya dibandingkan sedekah sepuluh ribu dari orang yang memiliki jutaan. Tentunya ketika keduanya sama-sama ikhlas, tentunya yang mengerahkan pengorbanan lebih besar, maka ini adalah lebih besar pahalanya. 

Kemudian sedekah yang berikutnya, yang manfaatnya lebih besar, lebih afdhal adalah صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ, sedekah yang dia menyedekahkan harta atau benda kemudian harta tersebut dan benda tersebut masih terus dipergunakan dan mendatangkan pahala yang mengalir. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ...... إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ 
"Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga.... Dan di antaranya adalah shadaqatun jariyah." (HR. Muslim) 

Maka ini adalah di antara beberapa kondisi yang menyebabkan sedekah lebih besar, lebih afdhal pahalanya, yaitu apa yang telah kita sebutkan dan tentunya ini bukanlah pembatasan, masih ada lagi kondisi-kondisi lainnya. Kondisi yang menyebabkan sedekah lebih afdal dan lebih besar pahalanya. 

Kita memohon kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikan kita semua orang-orang yang mudah dan diberikan pertolongan untuk bisa melakukan sedekah. 

أَقِمِ الصَّلَاةَ
baca selanjutnya “Sedekah Bukti Keimanan Hamba”

Senin, 24 November 2025

husnul khotimah

 

📜 Teks Khutbah Jumat : husnul khotimah 

​Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

ibadallah kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa taala.

​Allah subhanahu wa taala telah memberikan begitu banyak kenikmatan kepada kita. Dan di antara kenikmatan tersebut adalah nikmatul iman, nikmatul Islam, dan juga nikmat-nikmat yang lainnya. Nikmat-nikmat tersebut harus kita jaga agar kita terus berada di atas kenikmatan tersebut dan meninggal di atas kenikmatan tersebut.

​Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Inamal a'malu bilkhawatim," sesungguhnya amalan itu adalah tergantung dari akhirnya. Barang siapa yang pada akhir hayatnya amalannya baik, maka insyaallah ini menunjukkan husnul khatimah, dia akan masuk surga. Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pun bersabda, "Man kana akhiru kalamihi lailahaillallah dakhalal jannah." Barang siapa yang pada akhir hayatnya dia mengucapkan Lailahaillallah, maka dia akan masuk surga. Inilah yang yang disebut dengan husnul khatimah, akhir yang baik. Dia meninggal di atas keislamannya. Dia meninggal di atas keimanannya.

​Bagaimana seseorang dia bisa meraih, bisa mengejar husnul khatimah? secara umum, Ibnu Katsir rahimahullah beliau ketika menafsirkan ayat wala tamutunna illa wa antum muslimun. Janganlah kalian meninggal melainkan dalam keadaan muslim, dalam keadaan mukmin, yakni dalam keadaan beriman. Ibnu Katsir mengatakan, yakni maknanya adalah jagalah keislaman kalian ketika dalam keadaan sehat. Jagalah Islam kalian ketika dalam keadaan selamat agar kalian meninggal di atas keislaman.

​Kemudian Ibnu Katsir pun mengatakan, "Man asya ala syain mata alaih." Barang siapa yang terbiasa dia ketika hidupnya di atas sesuatu, di atas keislaman, di atas keimanan, maka "mata alaih", dia akan meninggal di atas sesuatu tersebut. Maka barang siapa yang ingin meraih istiqamah, yang ingin meraih husnul khatimah, maka dia istiqamah, dia luzumu thaah, melakukan ketaatan, ini secara umum. Kemudian Ibnu Katsir juga mengatakan, "Wa man mata ala syain buitsa alaih " barang siapa yang meninggal di atas suatu keadaan, maka dia dijanjikan akan dibangkitkan dengan keadaan tersebut. Barang siapa yang meninggal di atas Islam, di atas iman, maka dia pun akan dibangkitkan di kelak di Yaumul Kiamah dalam keadaan muslim, dalam keadaan beriman.

​Maka para ulama lebih rinci lagi, mereka menyebutkan amalan-amalan atau cara-cara bagaimana seseorang bisa mendapatkan husnul khatimah. Secara umum telah disebutkan adalah dia melakukan amalan taat. Kemudian di dalam ayat, di dalam dalil-dalil di antara sebab-sebab meraih Husnul Khatimah adalah dengan dia beriman kepada Allah Subhanahu wa taala. Allah Subhanahu wa taala berfirman :

{ یُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا وَفِی ٱلۡـَٔاخِرَةِۖ وَیُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلظَّـٰلِمِینَۚ وَیَفۡعَلُ ٱللَّهُ مَا یَشَاۤءُ }

[Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh(dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.]

[Surat Ibrahim: 27]

 .Dan Allah Subhanahu wa taala akan mengokohkan. Siapa yang dikokohkan? "Aladzina amanu". Orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa taala. Dikokohkan dengan apa? Bilqoul tsabit. Dengan ucapan yang kuat, ⁸ucapan yang yang kokoh yang dimaksud adalah kalimatut tauhid, yaitu ucapan Lailahaillallah. Kapan dikokohkan? Fil hayatid dunya. Ketika dia masih hidup. Yang dimaksud adalah qoblal maut. Sebelum dia meninggal barang siapa beriman maka Allah akan kokohkan dia. Dia meninggal dengan keimanannya. Dia meninggal dengan mengucapkan Lailahaillallah. Kemudian juga dikokohkan fil akhirah. Yakni filqabri. Ketika dia dikubur di kuburan ditanya tentang siapa Rabbnya, apa agamanya dan siapa nabinya, maka dikokohkan bisa menjawab pertanyaan atau fitnatul kubur tersebut.

​Kemudian sebab yang kedua, seseorang ketika ingin meraih husnul khatimah adalah dengan dia al-istiqamah, yaitu dengan luzumut thaah, dengan senantiasa dia melakukan amalan-amalan saleh. Karena amalan kebaikan ini adalah dilakukan selama-lamanya tidak ada hentinya sampai kapan? Sampai dia meninggal. 

{ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ یَأۡتِیَكَ ٱلۡیَقِینُ }

[Surat Al-Hijr: 99]

 Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang keyakinan, yaitu sesuatu yang yakin, sesuatu yang pasti, yaitu adalah kematian. Dalam beribadah maka tidak mengenal lelah, tidak mengenal jeda istirahat, tetapi teruslah dia beribadah sepanjang hidupnya. Inilah yang disebut dengan istiqamah. Maka orang-orang yang istiqamah. Allah Subhanahu wa taala menjanjikan :

{ إِنَّ ٱلَّذِینَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَـٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَیۡهِمُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحۡزَنُوا۟ وَأَبۡشِرُوا۟ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِی كُنتُمۡ تُوعَدُونَ }

[Surat Fushilat: 30]

innalladina qolu rabbunallah. Orang-orang yang mengatakan Rabbku adalah Allah dia beriman kepada Allah {ثم استقاموا} Kemudian dia istiqamah senantiasa melakukan ketaatan tatanazalu alaihim. Maka akan turun malaikat, yaitu mereka malaikat mengatakan kepada orang yang istiqamah tersebut, janganlah engkau takut. Kapan malaikat turun? Berkata Ibnu Abbas, qobla maut. Menjelang kematian, maka para malaikat turun dan mereka mengatakan kepada hambanya, kepada hamba Allah Subhanahu wa taala, alla takhafu. Janganlah kalian takut. Takut dari apa? Dari yang kalian hadapi. Minal maut, dari kematian. Janganlah kalian takut. dari kematian dan hal-hal yang akan kau hadapi dari setelah kematian. Wala tahzanu. Malaikat pun mengatakan kepada hamba Allah, "Jangan kalian bersedih." Bersedih atas apa? Ala ma kholaftum. Bersedih terhadap yang ditinggalkan dari keluarga, dari istri. Janganlah kalian khawatir karena Allah yang akan menjaganya. Wa absiru bil jannatillati kuntum tuadun. Dan bergembiralah dengan Jannah yang kalian telah dijanjikan dengan Jannah tersebut. Maka inilah al-istiqamah merupakan sebab yang menjadikan seorang hamba mati atau meninggal dalam keadaan husnul khatimah.


Khutbah Ke dua :

​Alhamdulillah Hamdan katsiran thoyyiban mubarakan fiih kama yuhibu robbuna wa yardho. Kemudian sebab yang lain agar seseorang bisa meraih husnul khatimah, meninggal di atas kebaikan, di atas keimanan adalah islahu alqalbi, yaitu senantiasa dia memperbaiki hatinya. Dia tidak hanya memperbaiki lahiriahnya, amalan-amalan zahirnya, tidak cukup, tetapi dia juga harus melihat amalan-amalan batinnya, harus memperbaiki hatinya, niatnya, menjaga hatinya. Karena Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Ketahuilah bahwasanya di dalam tubuh ada segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut baik, maka baiklah seluruh badannya." Apabila segumpal daging tersebut rusak, maka rusaklah seluruh badannya. Ketahuilah itu adalah kalbu, itu adalah hati. Maka perbaikilah hati kita. Karena dengan memperbaiki hati sekaligus itu bisa memperbaiki amalan lahiriah, amalan ibadah-ibadah yang terlihat. Kemudian juga seseorang yang memperbaiki hati maka ini akan menjadi sebab istiqamah dia dan juga meraih husnul khatimah.

​Dan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengingatkan, barang siapa yang dia secara zahir melakukan amalan-amalan ibadah, tetapi ternyata dalam hatinya dia menyembunyikan niat yang jelek, tidak ikhlas, maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengingatkan : ((demi Allah sesungguhnya ada seseorang di antara kalian yang dia melakukan amalan penduduk surga, dia melakukan ketaatan hingga tidak ada jarak dia dengan surga melainkan sehasta saja. Artinya dia terus melakukan amalan-amalan kebaikan hingga menjelang meninggalnya. Tetapi kitab (catatan takdir) telah mendahuluinya. Maka dia melakukan di akhir hayatnya, di akhir hidupnya melakukan amalan penduduk neraka Maka dia masuk neraka. Sebaliknya dan ada di antara kalian dia sepanjang hidupnya melakukan amalan-amalan penduduk neraka, bermaksiat, berbuat kufur sampai tidak ada jarak antara dia dengan neraka. Ini maksudnya dengan kematian kecuali sehasta saja. Maka telah mendahului dia takdir. Kemudian di akhir hidupnya dia melakukan amalan penduduk surga, maka dia masuk ke dalam surga. Para ulama mereka menafsirkan atau menjelaskan tentang hadis ini. Di antaranya Syekh Utsaimin, beliau menyebutkan : Sesungguhnya yang disebutkan di dalam hadis ini ada orang yang dia melakukan amalan-amalan penduduk surga sampai meninggalnya atau menjelang meninggalnya kemudian melakukan penduduk amalan penduduk neraka. Ini adalah fima yabdu linnas yaitu amalan yang hanya tampak di mata manusia saja. Ya, artinya dia melakukan amalan kebaikan riyaan wasumatan. Dia hanya untuk dilihat manusia. Adapun hatinya menyembunyikan kejelekan. Maka hati-hatilah kita. Kita terus senantiasa merasa takut. Kita terus memelihara niat-niat kita agar amalan kita ikhlas karena Allah subhanahu wa taala.

​Kemudian berikutnya yang termasuk menyebabkan seseorang meraih husnul khatimah adalah bertobat. Bertobat dari segala dosa. Bertobat bersegera dan juga dari dosa setiap saat setiap dia melakukan dosa maka bersegera dia bertobat. Tidak menunggu di masa tua tidak menunggu kalau dosanya sangat besar baru bertobat. Ibnu Mas'ud anhu. Beliau menyebutkan sesungguhnya sifat seorang yang beriman dia melihat, dia menganggap dosa-dosanya seakan-akan dia duduk di bawah gunung. Dia duduk di bawah batu yang besar. Kemudian dia takut gunung tersebut akan menimpanya. Sebaliknya fajir. Sesungguhnya ahlu maksiat dia menganggap melihat dosa-dosa itu adalah seakan-akan seperti lalat. Kemudian seakan-akan lalat yang lewat di depan hidungnya atau hinggap di depan hidungnya kemudian dia hanya mengibaskan tangannya, mengusir dan dia menganggap itu adalah perkara yang kecil. Maka dosa apapun yang kita lakukan, besar atau kecil, segeralah bertobat. Karena kita khawatir apabila kita tidak bertobat. Ternyata ketika melakukan dosa tersebut ternyata kita dimatikan oleh Allah Subhanahu wa taala.

​Kemudian sebab yang lain agar meraih husnul khatimah -dan ini bukan pembatasan-, masih banyak sebab-sebab yang lain adalah ad-dua yaitu berdoa kepada Allah subhanahu wa taala. Karena Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya hati seorang hamba itu di antara dua jemari Allah, maka Allah akan membolak-balikkan terserah Allah subhanahu wa taala." Maka kita meminta kepada Allah subhanahu wa taala sebagaimana doa yang sering diajarkan atau diucapkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. " Wahai yang membolak-balikkan hati tetapkanlah kokohkanlah hatiku di atas agamamu." Maka kita memohon kepada Allah Subhanahu wa taala kita terus melakukan ketaatan, kita bertobat dari dosa dosa sekarang secepatnya dan juga kita memohon kepada Allah Subhanahu wa taala agar dikokohkan hati kita.


khutbah jumat, mahad daarul atsaar purwakarta, 17 oktober 2025.

baca selanjutnya “husnul khotimah”

Bekal Dakwah


​📜 Syukur atas Beragam Kenikmatan Allah

​Ikhwani fiddin a'azzakumullah, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan beragam kenikmatan kepada kita. Apabila kita menghitung kenikmatan-kenikmatan tersebut, niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya.

​Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"...Wa in ta'udduu ni'matallahi laa tuhsuuhaa." (QS. An-Nahl: 18)

"Apabila kalian menghitung kenikmatan-kenikmatan Allah, maka kalian tidak akan mampu menghitungnya."


​Ini dikarenakan begitu banyaknya kenikmatan yang Allah berikan. Maka, sudah sepantasnya bagi kita semua untuk mensyukuri kenikmatan-kenikmatan tersebut.

​💖 Janji Allah bagi Orang yang Bersyukur

​Apabila kita mensyukuri kenikmatan tersebut, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menambahkan kenikmatan itu kepada kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"...Lain syakartum la azidannakum wa lain kafartum inna 'adzābī la syadīd." (QS. Ibrahim: 7)

"Apabila kalian bersyukur, maka Aku akan tambahkan kenikmatan untuk kalian. Akan tetapi, sebaliknya apabila kalian kufur nikmat, maka ketahuilah bahwasanya azab Allah sangatlah pedih."


​Maka, hendaklah kita bersyukur dengan segala bentuk syukur. Para ulama menyebutkan ada tiga macam bentuk syukur:

  1. Syukur dengan Hati: Didasarkan pada keyakinan bahwa segala kenikmatan yang diperoleh hakikatnya adalah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. ​"...Wa mā bikum min ni'matin faminallāh..." (QS. An-Nahl: 53) "Dan tidaklah ada kenikmatan dan segala sesuatu kenikmatan yang ada pada kalian, maka itu datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala."
  2. "...Wa mā bikum min ni'matin faminallāh..." (QS. An-Nahl: 53)

    "Dan tidaklah ada kenikmatan dan segala sesuatu kenikmatan yang ada pada kalian, maka itu datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala."


    1. Syukur dengan Lisan: Dengan mengucapkan zikir-zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan memuji-Nya, seperti mengucapkan "Alhamdulillah," segala puji bagi Allah yang telah memberikan kenikmatan kepada kita.
    2. Syukur dengan Anggota Badan (Amalan): Dengan menggunakan kenikmatan-kenikmatan tersebut untuk menambah amalan ketaatan. Contohnya, menggunakan harta yang diperoleh untuk jalan yang bisa menambah ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

    ​🕋 Kenikmatan Terbesar: Nikmatul Islam dan Ukhuwah

    ​Di antara kenikmatan yang Allah berikan kepada kita, yang merupakan kenikmatan paling besar, adalah Nikmatul Islam. Islam adalah satu-satunya agama yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

    ​Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

    "...Inna ad-dīna 'indallāhil-Islām..." (QS. Ali 'Imran: 19)

    "Sesungguhnya agama yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala hanyalah Islam."


    ​Dan barang siapa yang mencari selain agama Islam sebagai agamanya, maka pasti tertolak:

    "...Wa may yabtaghi ghairal-Islāmi dīnan falay yuqbala min-hu, wa huwa fil-ākhirati minal-khāsirīn." (QS. Ali 'Imran: 85)

    "...maka tidak akan diterima, dan dia kelak di akhirat termasuk orang-orang yang merugi."


    ​🤝 Keutamaan Berkumpul dan Persaudaraan

    ​Kenikmatan lainnya adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala masih memberikan kesempatan bagi kita untuk menjalankan ibadah Jumat dan berkumpul di rumah-Nya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang sekelompok orang yang berkumpul di masjid, membaca Al-Qur'an, dan saling mempelajarinya:

    "...Illā nazalat 'alaihimus-sakīnah, wa ghāsyiyat-humur-raḥmah, wa ḥaffat-humul-malā'ikah, wa dzakarahumullāhu fī man 'indah."

    "...kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, mereka akan diliputi rahmat, malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala akan membanggakan mereka di hadapan para malaikat-Nya."


    ​Kemudian, kenikmatan besar lainnya adalah Nikmatul Ukhuwah (tali persaudaraan). Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan sesama orang-orang yang beriman sebagai saudara.

    ​Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

    "...Innamal-mu'minūna ikhwah..." (QS. Al-Hujurat: 10)

    "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mereka adalah bersaudara."


    ​Maka, sudah sepantasnya kita menganggap kaum Muslimin yang lainnya adalah saudara kita, dan kita ingin memberikan yang terbaik kepada saudara kita. Hal ini merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang.

    ​Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    "...Lā yu'minu aḥadukum ḥattā yuḥibba li-akhīhi mā yuḥibbu li-nafsih."

    "Tidaklah sempurna iman seseorang, sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri."


    ​Sebagai Ahlus Sunnah wal Jama'ah, kita tidak hanya memberikan kebaikan dunia, tetapi yang lebih utama adalah memberikan kebaikan akhirat, terutama dalam permasalahan agama mereka.

    ​🎁 Tiga Bentuk Kebaikan Akhirat untuk Saudara

    ​Cara untuk memberikan kebaikan akhirat, atau kebaikan agama, kepada saudara kita, sebagaimana Allah bimbing melalui firman-Nya dalam Surah Al-'Asr:

    "...Illal-ladhīna āmanū wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣaw bil-ḥaqqi wa tawāṣaw biṣ-ṣabr." (QS. Al-'Asr: 3)

    "...melainkan orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan saling memberikan wasiat kepada kebenaran dan juga kesabaran."


    ​Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang dikecualikan dari kerugian adalah yang saling memberikan nasihat kepada kebenaran dan kesabaran. Ini adalah salah satu cara untuk memberikan yang terbaik kepada saudara kita.

    ​Berikut adalah tiga bentuk utama dalam mewujudkan kebaikan akhirat bagi sesama muslim:

    ​1. Nasihat (Ad-Dīnun Naṣīḥah)

    ​Nasihat merupakan tonggak agama ini. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    "...Ad-dīnun naṣīḥah."

    "Bahwasanya agama itu adalah nasihat."


    ​Ketika ditanya untuk siapa, beliau menjawab:

    • ​Nasihat karena Allah.
    • ​Nasihat dalam rangka menjalankan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
    • ​Nasihat kepada pemimpin-pemimpin umat Islam (Aimmatil Muslimīn).
    • ​Nasihat kepada kaum Muslimin secara umum.

    ​Memberikan nasihat juga merupakan hak sesama muslim. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "...wa idzāstansaḥaka fanṣaḥhu" (apabila seseorang meminta untuk diberi nasihat, maka berilah dia nasihat).

    ​2. Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

    ​Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan umatnya untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar (memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran).

    ​Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

    "...Waltakum minkum ummatun yad'ūna ilal-khairi wa ya'murūna bil-ma'rūfi wa yanhawna 'anil-munkar. Wa ulā'ika humul-mufliḥūn." (QS. Ali 'Imran: 104)

    "Hendaklah ada di antara kalian sekelompok orang yang mengajak kepada kebaikan, memerintahkan kepada kebaikan, dan juga mencegah kepada kemungkaran. Mereka adalah orang-orang yang beruntung."


    ​Para sahabat menjadi umat terbaik karena mereka menegakkan amar ma'ruf nahi munkar:

    "...Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nāsi ta'murūna bil-ma'rūfi wa tanhawna 'anil-munkari wa tu'minūna billāh..." (QS. Ali 'Imran: 110)

    "Kalian adalah sebaik-baik umat... karena kalian menegakkan amar ma'ruf dan juga mencegah kepada kemungkaran."


    ​Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang cara mengubah kemungkaran (Hadis Abu Sa'id Al-Khudri):

    "Barang siapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah rubahlah dengan tangannya. Apabila dia tidak mampu, maka dengan lisannya (ucapan). Apabila itu pun tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan merubah kemungkaran dengan hatinya adalah sekecil-kecilnya iman."


    ​3. Berdakwah kepada Jalan Allah

    ​Mendakwahkan mereka ke jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan amalan yang sangat mulia.

    ​Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

    "...Wa man aḥsanu qaulan mimman da'ā ilallāhi wa 'amila ṣāliḥan wa qāla innani minal-muslimīn." (QS. Fushshilat: 33)

    "Dan siapakah yang lebih baik ucapannya dari orang yang berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, beramal saleh, dan dia juga mengatakan: 'Sesungguhnya aku termasuk dari orang-orang yang muslim'."


    ​Perintah berdakwah juga disebutkan:

    "...Ud'u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau'iẓatil ḥasanati wa jādil-hum billatī hiya aḥsan..." (QS. An-Nahl: 125)

    "Dan serulah kepada jalan Allah dengan hikmah, dengan nasihat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang baik."


    ​Keutamaan dakwah juga ditunjukkan dalam hadis:

    • Man dalla 'alā khairin fa-lahū mitslu ajri fā'ilih. "Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya."
    • Lā yanquṣu dzālika min ujūrihim syai'an. "Dan orang yang mengikutinya itu tidaklah berkurang sedikit pun dari pahala mereka."
    • Wallāhi lahyadiyallāhu bika rajulan wāḥidan khairun laka min ḥumrin na'am. "Demi Allah, apabila seseorang ada yang mendapatkan hidayah dikarenakan sebabmu, maka itu adalah lebih baik daripada engkau mendapatkan unta merah (kendaraan terbaik pada masa itu)."

    ​Ketiga hal ini (nasihat, amar ma'ruf nahi mungkar, dan dakwah) memiliki tujuan yang sama, yaitu isalul khair lil ghair, menyampaikan kebaikan kepada yang lainnya.

    ​💡 Tiga Pilar Pelaksanaan Kebaikan (Nasihat, Amar Ma'ruf, Dakwah)

    ​Berikut adalah beberapa poin penting terkait pelaksanaan tiga bentuk kebaikan tersebut:

    ​1. Ilmu (Al-'Ilm) dan Niat Ikhlas (An-Niyyah)

    ​Sebelum berani melakukan tiga perkara tersebut, hendaklah dilandasi dengan ilmu (Al-'Ilm) dan niat yang ikhlas (An-Niyyah).

    ​Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

    "...Fa'lam annahu lā ilāha illallāh..." (QS. Muhammad: 19)

    "Ketahuilah bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah."


    Al-Imam Al-Bukhari mengatakan: Fabada'a bil-'ilmi qablal-qaul wal-'amal (maka hendaklah seseorang memulai dengan ilmu sebelum dia mengucapkan dan juga sebelum dia berbuat sesuatu).

    ​Ilmu dan Niat Ikhlas adalah dua syarat diterimanya ibadah:

    • Niat Ikhlas: Meluruskan niat, yaitu semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. ​"...Innamal a'mālu bin-niyyāt." "Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya." Walaupun amalan sesuai Sunnah, jika niatnya tidak syar'i, amalan tersebut tertolak.
    • "...Innamal a'mālu bin-niyyāt."

      "Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya."

      Walaupun amalan sesuai Sunnah, jika niatnya tidak syar'i, amalan tersebut tertolak.


      • Ilmu/Sesuai Sunnah: Walaupun amalan dilakukan ikhlas karena Allah, jika tidak sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak dilandasi dengan ilmu, maka amalan itu pun tertolak.

      ​2. Memulai dari Diri Sendiri

      ​Memulai dari diri sendiri memiliki dua makna:

      • Mengamalkannya: Hendaklah orang yang menyuruh dan menasihati, dia orang yang pertama kali melaksanakannya. Ini merupakan celaan bagi ahlul kitab (Surat Al-Baqarah: 44): ​"...A ta'murūnan-nāsa bil-birri wa tansauna anfusakum wa antum tatlūnal-kitāb, afalā ta'qilūn." "Apakah kalian memerintahkan manusia kepada kebaikan, sedangkan kalian melupakan diri-diri kalian? Padahal kalian membaca Al-Kitab, tidakkah kalian berpikir?" Juga celaan bagi yang berkata tetapi tidak melaksanakan (Surat As-Saff: 2-3): "...Li-ma taqūlūna mā lā taf'alūn. Kabura maqtan 'indallāhi an taqūlū mā lā taf'alūn." "Mengapa kalian mengucapkan sesuatu yang kalian tidak melaksanakannya? Betapa besar kemarahan Allah Subhanahu wa Ta'ala apabila kalian mengucapkan apa yang tidak kalian lakukan."
      • "...A ta'murūnan-nāsa bil-birri wa tansauna anfusakum wa antum tatlūnal-kitāb, afalā ta'qilūn."

        "Apakah kalian memerintahkan manusia kepada kebaikan, sedangkan kalian melupakan diri-diri kalian? Padahal kalian membaca Al-Kitab, tidakkah kalian berpikir?"

        Juga celaan bagi yang berkata tetapi tidak melaksanakan (Surat As-Saff: 2-3):

        "...Li-ma taqūlūna mā lā taf'alūn. Kabura maqtan 'indallāhi an taqūlū mā lā taf'alūn."

        "Mengapa kalian mengucapkan sesuatu yang kalian tidak melaksanakannya? Betapa besar kemarahan Allah Subhanahu wa Ta'ala apabila kalian mengucapkan apa yang tidak kalian lakukan."


        • Mendakwahkan kepada Diri Sendiri dan Keluarga Terdekat: Memulai dakwah dari diri sendiri, kemudian orang terdekat (seperti istri dan keluarga). ​"...Yā ayyuhal-ladhīna āmanū qū anfusakum wa ahlīkum nārā..." (QS. At-Tahrim: 6) "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan juga keluarga-keluarga kalian dari api neraka." "...Wa'mur ahlaka biṣ-ṣalāti waṣṭabir 'alaihā..." (QS. Thaha: 132) "Dan perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam memerintahkannya."
        • "...Yā ayyuhal-ladhīna āmanū qū anfusakum wa ahlīkum nārā..." (QS. At-Tahrim: 6)

          "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan juga keluarga-keluarga kalian dari api neraka."

          "...Wa'mur ahlaka biṣ-ṣalāti waṣṭabir 'alaihā..." (QS. Thaha: 132)

          "Dan perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam memerintahkannya."


          ​3. Hikmah (Al-Hikmah) dalam Berdakwah

          ​Seorang yang berdakwah harus dilandasi dengan hikmah.

          ​Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

          "...Ud'u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati..." (QS. An-Nahl: 125)

          "Dan serulah ke jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hikmah."


          • Makna Hikmah: Waḍ'usy syai'i fī maḥallih (meletakkan sesuatu pada tempatnya), yaitu meletakkan sesuatu sesuai dengan kondisi dan situasi.
          • Hukum Asal: Hukum asal dakwah adalah menyampaikan dengan lemah lembut. Namun, jika kondisi tertentu menuntut ketegasan, maka perlu berdakwah dengan ketegasan.
          • Prioritas Dakwah: Bentuk hikmah adalah mendahulukan perkara yang paling penting di atas penting yang lainnya.

          ​Perkara yang paling pertama kali didakwahkan, meniru dakwah para rasul, adalah perkara tauhid.

          ​Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepada Mu'adz bin Jabal ketika diutus ke Yaman:

          "...Falyakun awwalu mā tad'ūhum ilaihi syahādatu an lā ilāha illallāh."

          "...maka hendaklah apa yang pertama kali engkau dakwahkan adalah perkara tauhid."


          ​🌍 Sarana Dakwah yang Luas (Wasā'ilud Da'wah Katsīrah)

          ​Poin terakhir adalah memahami bahwa sarana-sarana atau cara-cara untuk berdakwah sangat banyak.

          • Tugas Setiap Muslim: Tugas dakwah tidak hanya milik para ustaz atau santri. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ballighū 'annī wa lau āyah" ("Sampaikan dariku walaupun satu ayat"). Maksudnya, sampaikan perkara yang telah kita ketahui dan ilmui dengan benar, sesuai dengan kemampuan masing-masing.
          • Bentuk Dakwah yang Beragam: Dakwah tidak sempit hanya dengan berceramah atau berdiri di mimbar, tetapi maknanya sangat luas, meliputi:
            • ​Menulis.
            • ​Memberikan kaset, majalah, atau buletin yang berpemahaman Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
            • Dakwah bil-ḥāl (dakwah dengan keadaan/perilaku). Yaitu, dengan menunjukkan sikap atau perilaku yang baik.
          • Pengaruh Akhlak Mulia: Akhlak yang mulia sangat berpengaruh terhadap penerimaan masyarakat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: ​"...Wa lau kunta faẓẓan ghalīẓal-qalbi lanfaḍḍū min ḥaulik..." (QS. Ali 'Imran: 159) "Wahai Rasulullah, seandainya engkau bersikap keras dan kaku, maka orang-orang di sekitar kalian akan lari."
          • "...Wa lau kunta faẓẓan ghalīẓal-qalbi lanfaḍḍū min ḥaulik..." (QS. Ali 'Imran: 159)

            "Wahai Rasulullah, seandainya engkau bersikap keras dan kaku, maka orang-orang di sekitar kalian akan lari."


            ​Maka, hendaklah kita di masyarakat berakhlak mulia agar masyarakat tidak lari dari dakwah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

            Alhamdulillah hamdan katsiran tayyiban mubarakan fih, kama yuḥibbu rabbunā wa yardā. Semoga kita dapat mengamalkan dan menjalankan segala bentuk kebaikan ini dengan tujuan memberikan kebaikan akhirat kepada saudara-saudara kita sesama Muslim.

            Yā muqallibal-qulūb, thabbit qalbī 'alā dīnik. (Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu).

            ​Khutbah Jumat, 27 januari 2012 (Ma'had Dhiyauus Sunnah, Cirebon)

baca selanjutnya “Bekal Dakwah”

Rabu, 23 April 2025

Harta Yang Haram Sebab Tidak Terkabul Doa



Harta Yang Haram Sebab Tidak Terkabul Doa


Transkrip Khutbah Jumat Masjid Al-Ikhlas

(Pembukaan Khutbah)


Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kaum Muslimin jamaah Jumat yang semoga dirahmati Allah, setiap manusia tentu memiliki keinginan untuk memberikan yang terbaik—baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang-orang yang dicintainya, seperti anak, istri, dan keluarganya.

Akan tetapi, sebagai seorang Muslim dan Mukmin, keinginan itu harus selalu diiringi dengan bimbingan dari Allah dan Rasul-Nya. Hal ini berbeda dengan orang-orang kafir yang bebas melakukan apa saja demi kebahagiaan duniawi. Sementara bagi orang beriman, ada aturan dan tuntunan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala serta Rasul-Nya yang harus diikuti.

Pada kesempatan khutbah ini, kita akan membacakan satu hadits yang disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Kitab Arba’in An-Nawawiyyah, hadits ke-10, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah itu Thayyib (Maha Baik) dan tidak menerima kecuali yang thayyib (baik)."

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Ibn Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa makna "thayyib" di sini adalah suci. Artinya, Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Dzat yang Maha Suci, bersih dari segala kekurangan dan aib. Oleh karena itu, Allah tidak menerima kecuali dari yang suci dan baik.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dalam perkara sedekah: Allah tidak menerima kecuali dari harta yang halal dan baik. Namun, sebagian ulama lainnya menafsirkan bahwa ini bersifat umum: Allah tidak menerima sedekah, amalan, keyakinan, maupun ucapan, kecuali yang berasal dari sumber yang baik dan benar.





Kaum Muslimin yang dirahmati Allah,

Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Allah tidak menerima kecuali dari yang thayyib (baik). Maka, sudah sepatutnya seorang hamba memperhatikan dari mana ia mendapatkan harta, bagaimana ia beramal, dan apa yang ia ucapkan, karena semua itu akan dinilai oleh Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian."
(QS. Al-Baqarah: 172)

Kemudian, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan tentang seseorang yang sedang dalam keadaan safar, rambutnya kusut dan tubuhnya berdebu. Ia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, "Ya Rabbi, Ya Rabbi." Namun, Rasulullah bersabda:

"Makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?"
(HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa walaupun seorang hamba berada dalam kondisi yang sangat memungkinkan untuk dikabulkan doanya—seperti musafir, dalam keadaan butuh, merendahkan diri di hadapan Allah—tetapi jika yang dikonsumsi haram, maka itu menjadi penghalang dikabulkannya doa.

Maka, hendaknya kita memperhatikan sumber nafkah kita, dari mana kita mendapatkan makanan, minuman, dan pakaian. Jangan sampai yang haram menjadi sebab tidak diterimanya amal dan doa kita.






Kaum Muslimin rahimakumullah,

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Dzat yang Maha Sempurna, Maha Suci, dan bersih dari segala kekurangan. Oleh karena itu, Allah tidak menerima kecuali dari perkara yang baik.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa maksud hadits ini berkaitan dengan sedekah—bahwa Allah hanya menerima sedekah dari harta yang halal dan thayyib. Namun sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa makna ini bersifat umum: Allah tidak menerima sedekah, amalan, keyakinan, ataupun ucapan kecuali yang berasal dari perkara yang baik.

Oleh sebab itu, hendaknya kita semua memeriksa amalan, keyakinan, dan ucapan kita. Apakah itu semua benar-benar baik atau tidak? Karena jika tidak baik, maka tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Perintah Allah kepada Para Rasul dan Orang Beriman

Dalam lanjutan hadits tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman sebagaimana Ia memerintahkan kepada para Rasul.”

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramallah dengan amal yang shalih."
(QS. Al-Mu’minun: 51)

Dan kepada orang-orang yang beriman, Allah juga berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian."
(QS. Al-Baqarah: 172)






Di sini jelas bahwasanya kita semua diperintahkan untuk makan dari perkara yang halal dan juga dari perkara yang thayyib.

Halal dari cara meraihnya, dari cara mencarinya. Dan thayyib dari zatnya, baik untuk kesehatan, dan juga baik menurut ilmu dunia. Secara kesehatan, itu adalah baik untuk tubuh kita.

Kemudian disebutkan oleh Syaikh, bahwa perintah kepada Rasul itu adalah sama dengan perintah kepada orang-orang beriman, kepada kaum muslimin secara umum.

Di sini ada pelurusan terhadap sebagian kaum muslimin yang salah paham. Mereka meyakini bahwa orang-orang Islam itu berbeda kedudukannya: ada yang kedudukannya adalah syariat, ada yang tingkatannya adalah hakikat, dan juga ma’rifat.

Karena mereka membagi kedudukan-kedudukan tersebut, mereka kemudian mengatakan bahwa ketakwaan, melakukan amalan shalih, dan meninggalkan keharaman itu hanya khusus bagi orang-orang awam—orang-orang yang tingkatannya masih syariat. Akan tetapi, menurut mereka, kalau sudah ma’rifat, sudah mengenal Allah, sudah menyatu dengan Allah, sudah sampai pada hakikat, maka tidak perlu lagi melakukan amalan shalih dan tidak perlu lagi meninggalkan keharaman.

Maka ini adalah pemahaman yang tidak sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Perintah terhadap Rasulullah adalah juga perintah kepada kaum muslimin.

Sebagian mereka yang mengatasnamakan agama tidak melakukan sholat. Ketika ditegur, mereka mengatakan, “Aku berbeda dengan kalian. Aku sudah hakikat, aku sudah ma’rifat. Sholat itu yang penting eling, yang penting ingat. Dan aku sudah ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aku tidak perlu sholat.”

Kemudian, ketika mereka tidak sholat Jumat dan hanya mengurung diri di kamar, saat ditegur mereka mengatakan, “Aku sudah sholat Jumat. Ragaku di sini, tetapi jiwaku sudah sholat di Mekkah.”

Ini adalah ucapan-ucapan yang tidak sesuai dengan bimbingan Islam.

Bahkan, ketika tokoh mereka datang ke tempat maksiat seperti diskotek dan meminum minuman khamr (minuman beralkohol), ia mengatakan, “Aku beda. Menurut kalian ini alkohol. Tapi menurutku, ketika sampai di bibirku dan masuk ke tenggorokanku, ini adalah air suci.”


 Ini sebenarnya adalah kemaksiatan-kemaksiatan yang dibungkus dengan agama.

Bahkan sebagian mereka berzina mengatasnamakan agama, mengatakan ini adalah kawin kontrak.

Ini adalah ajaran-ajaran yang, wahai kaum Muslimin, perlu diwaspadai. Kalau kita mempelajari hadits-hadits dari Rasulullah, maka jelaslah bahwasanya kedudukan kaum Muslimin, setinggi apa pun—walaupun dia, misalkan, diklaim sebagai wali—tetap tidak lebih tinggi dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Rasul saja diperintahkan:
"Kuluu minath-thayyibaat" (makanlah dari yang baik-baik/halal).
Maka dari makanan yang halal, Rasulullah masih melakukan shalat, masih melakukan ibadah.

Badan dan jiwa yang sholeh meninggalkan keharaman. Terlebih lagi kita yang jauh di bawah Rasulullah.




Khutbah Kedua :





Alhamdulillah...

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan dalam hadits Abu Hurairah, yang disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam hadits ke-10 dari kitab Arba'in Nawawiyah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, dan badannya berdebu. Ia mengangkat kedua tangannya ke langit, berdoa:

"Yā Rabbī, Yā Rabbī..."
"Wahai Rabbku, wahai Rabbku..."

Namun, kata Rasulullah, makanan orang ini berasal dari yang haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari sesuatu yang haram pula.

"Fa-annā yustajābu lahu?"
"Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?"

(HR. Muslim)

Hadits ini dijelaskan oleh Ibnu Rajab rahimahullah, bahwa dalam potongan hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan adab-adab dalam berdoa, serta sebab-sebab yang menjadikan doa dikabulkan. Akan tetapi, juga disebutkan adanya penghalang-penghalang doa yang bisa menyebabkan doa tidak dikabulkan.

Di antara sebab dikabulkannya doa, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini adalah:

  1. Melakukan perjalanan (safar)
    Perjalanan jauh merupakan salah satu keadaan yang mustajab untuk berdoa.

Namun sayangnya, meskipun orang tersebut berada dalam kondisi mustajab, doanya tidak dikabulkan karena dia memakan yang haram, memakai yang haram, dan diberi makan dari yang haram.




Dan ini adalah salah satu waktu yang sangat diharapkan dikabulkannya doa.

Maka barang siapa ketika melakukan perjalanan safar keluar kota, manfaatkan momen tersebut untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena ini adalah salah satu waktu yang sangat diharapkan dikabulkan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:

"Dakwatu mustajabat, la syakka fihinna" – Ada tiga doa yang sangat diharapkan dikabulkan, tidak ada keraguan padanya:

  1. Doanya orang yang terzalimi (dakwatu al-mazhlum).
  2. Doanya orang yang sedang safar (dakwatu al-musafir).
  3. Doanya orang tua kepada anaknya (dakwatu al-walid li waladih).

Maka, manfaatkanlah kesempatan apabila kita sedang safar dalam perjalanan untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kemudian, sebab dikabulkannya doa yang disebutkan dalam hadits ini adalah asy'atsa dan aghbaro, yaitu kondisi seseorang dalam keadaan yang payah—rambutnya kusut, badannya berdebu, dalam kondisi yang sangat sederhana. Ini adalah momen yang merupakan sebab dikabulkannya doa.

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika melakukan shalat istisqa (shalat meminta hujan), beliau memerintahkan para jamaah untuk menggunakan pakaian yang sederhana. Karena kondisi seperti ini menjadi salah satu sebab doa seseorang dikabulkan.

Kemudian, sebab dikabulkannya doa yang ketiga yang disebutkan dalam hadits ini adalah yamuddu yadaihi ila as-sama’—dia mengangkat tangannya ke langit. Mengangkat tangan ini merupakan salah satu adab dalam berdoa dan juga menjadi sebab terkabulnya doa.






Menjadi salah satu sebab doa seseorang dikabulkan adalah ketika ia mengangkat tangannya ke langit. Mengangkat tangan ini merupakan salah satu adab dalam berdoa, dan juga menjadi sebab dikabulkannya doa seseorang, terutama jika doanya bersifat mutlak—yaitu tidak terikat dengan ibadah tertentu.

Jika seseorang berdoa di malam atau siang hari, di waktu yang tidak tertentu, maka disunnahkan baginya untuk mengangkat tangan. Ini adalah salah satu sebab dikabulkannya doa, sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

"Sesungguhnya Allah Maha Hidup dan Maha Mulia. Dia malu apabila seorang hamba mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu dikembalikan dalam keadaan kosong."

Allah memiliki sifat malu yang mulia. Allah malu untuk mengembalikan tangan seorang hamba dalam keadaan hampa jika ia benar-benar bersungguh-sungguh berdoa kepada-Nya.

Selanjutnya, sebab keempat dikabulkannya doa adalah al-ilhah, yaitu merengek, bersungguh-sungguh, dan serius dalam meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Termasuk juga menyebut nama Allah secara berulang-ulang, seperti “Ya Rabbi” atau dengan menyebut Asmaul Husna lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Walillahil Asma’ul Husna fad’uuhu bihaa”, yang artinya: Allah memiliki nama-nama yang indah, maka berdoalah dengan menyebut nama-nama tersebut.

Contohnya, ketika kita memohon rezeki, kita dapat berkata: “Ya Razzaq, wahai pemberi rezeki, berilah aku rezeki yang halal dan baik.”
Atau saat memohon ampunan: “Ya Ghaffar, wahai Dzat yang Maha Pengampun, ampunilah aku.”
Ini adalah sebab-sebab terkabulnya doa yang disebutkan dalam hadis.

Namun, meskipun seseorang telah melakukan semua sebab tersebut, bisa jadi doanya tidak dikabulkan.
Kenapa? Karena makanannya haram, minumannya berasal dari yang haram, pakaiannya dari hasil yang haram, bahkan ia disuapi dari hal-hal yang haram. Maka, fa annā yustajābu lahu – bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?

Oleh karena itu, tidak cukup hanya melakukan sebab-sebab terkabulnya doa. Kita juga harus menjauhi sebab-sebab yang membuat doa tidak dikabulkan—yaitu meninggalkan perkara-perkara yang haram.

Jika seseorang merasa doanya belum dikabulkan, hendaknya ia melakukan introspeksi:
Apakah pakaian yang dikenakan bersih dari yang haram?
Apakah makanan dan minuman yang dikonsumsi berasal dari sumber yang halal?
Apakah rezeki yang diberikan kepada keluarga juga bersih dari yang haram?


Jika masih ada yang haram, maka mulai sekarang mari kita tinggalkan.

Jangan sampai kita tergoda oleh keuntungan dunia yang sementara—misalnya dengan melakukan kecurangan atau korupsi. Walaupun nilainya miliaran atau bahkan triliunan, itu tetap kecil jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.

Jangan sampai demi dunia, kita mengorbankan akhirat, bahkan keluarga kita sendiri.

Memberi keluarga kita harta yang haram mungkin terasa menyenangkan sesaat, tetapi akibatnya sangat buruk. Amalan tidak diterima, doa pun tidak diijabah.

Sekaranglah waktunya kita kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mari bangkit dan bertaubat, membersihkan diri dan apa yang kita berikan kepada keluarga dari hal-hal yang tidak halal.

Kita mohon kepada Allah dengan penuh harap agar diberikan rezeki yang baik dan amalan yang diterima oleh-Nya.

Sebagaimana doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima." 


و صلى الله على نبينا وعلى آله و صحبه و سلم

و الحمد لله رب العالمين


Purwakarta, 26 Maret 2021

baca selanjutnya “Harta Yang Haram Sebab Tidak Terkabul Doa”

Jumat, 18 April 2025

Amalan Tergantung Niat

Transkrip Khutbah Jumat :


Hadits Amalan Tergantung Niat


(Khutbatul Hajah)

setelah itu :


Kaum muslimin yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu. Rasul bersabda:
 "إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ"
(متفق عليه)


“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan, atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kaum muslimin yang saya hormati,
Hadis ini sangat agung dan penting, mengingatkan kita semua tentang betapa pentingnya niat yang lurus dan ikhlas dalam setiap keadaan dan amal, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Dalam perdagangan, pekerjaan, pendidikan, bahkan dalam ibadah—semuanya harus dimulai dengan niat yang benar.

Para ulama menjadikan hadis ini sebagai pembuka dalam banyak kitab-kitab mereka untuk mengingatkan pentingnya memperbaiki niat dalam setiap amal perbuatan.
Abdurrahman bin Mahdi mengatakan:

 من أراد أن يصنف كتابا فليبدأ بحديث الأعمال بالنيات        
"Barang siapa yang ingin menulis sebuah kitab, maka mulailah dengan hadis amalan tergantung niatnya."

Oleh karena itu, banyak ulama terdahulu yang memulai kitab-kitab mereka dengan hadis ini, seperti Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari, Imam Nawawi dalam Arba’in Nawawi dan Riyadhus Shalihin, Iman Abdul Ghani al-Maqdisi dalam Umdatul Ahkam, dan yang lainnya.
Hal ini dimaksudkan sebagai pengingat bagi penulis agar ikhlas dalam menyusun kitab tersebut, dan juga sebagai pengingat bagi pembaca agar berniat ikhlas saat membaca dan mengamalkan isi kitab tersebut.

Makna dari hadis ini dijelaskan oleh banyak ulama. Di antaranya, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata :
:
"Setiap amalan yang dilakukan oleh seseorang yang berakal dan memiliki pilihan bebas, maka amalan itu pasti disertai dengan niat."


Tidak mungkin seseorang melakukan suatu amal tanpa niat, kecuali jika ia tidak sadar, gila, atau dipaksa.
Maka dari itu, para ulama mengatakan :

"Seandainya Allah mewajibkan amal kepada manusia tanpa niat, maka itu sesuatu yang mustahil, karena setiap amal pasti ada kemauan di baliknya. Dan kemauan itulah yang disebut niat".
Namun, permasalahannya bukan sekadar ada atau tidaknya niat, tetapi bagaimana niat tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melanjutkan dalam hadisnya :

 

"وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى"
"Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan."

Artinya, jika niatnya baik, maka ia akan mendapatkan pahala. Namun jika niatnya buruk, maka ia bisa mendapatkan dosa.

Disebutkan oleh para ulama, bahwa niat secara bahasa berarti keinginan (iradah), kemauan, dan tujuan. Ketika seseorang terbetik dalam hatinya untuk melakukan sesuatu, maka itu sudah disebut niat. Jadi, niat adalah dorongan hati yang mengarahkan seseorang untuk melakukan suatu amal.

Kemudian para ulama membagi pembahasan niat menjadi dua:

Pertama, niat dalam fiqih dan ibadah, yaitu membedakan antara ibadah yang satu dengan yang lain. Misalnya, ketika seseorang mengerjakan sholat, maka ia harus meniatkan apakah itu sholat wajib atau sunnah. Apakah itu sholat Dzuhur, Ashar, atau lainnya.

Contoh lain adalah mandi. Ada mandi yang termasuk ibadah, seperti mandi junub atau mandi hari Jumat, dan ada pula mandi yang hanya sekadar untuk menyegarkan badan. Maka niatlah yang membedakan apakah mandi itu ibadah atau hanya kebiasaan (adat).

Kedua, niat dalam pembahasan tauhid dan akidah, serta dalam konteks umum amal manusia. Dalam hal ini, niat bermakna menentukan untuk siapa amal itu dilakukan. Apakah semata-mata karena Allah, atau karena yang lain.

Seseorang yang beramal hendaknya meniatkan amal tersebut hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak untuk riya’, tidak untuk mencari pujian manusia. Jika ia menyekutukan niat—misalnya ingin mendapat ridha Allah dan sekaligus ingin dipuji manusia—maka ini adalah niat yang rusak, bahkan bisa menjerumuskan ke dalam dosa syirik. Inilah pembahasan niat dalam konteks akidah dan keikhlasan.

Berbeda dengan niat dalam kitab-kitab fiqih yang lebih fokus pada teknis membedakan ibadah dan adat, maka niat dalam konteks ini lebih luas, mencakup seluruh amal kehidupan.


Khutbah Kedua: Contoh Penerapan Niat

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala...
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan sabda beliau:
"Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan, atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju."

Hadits ini menunjukkan cara berdakwah yang bijak dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak hanya menyampaikan kaidah umum, tapi juga memberi contoh konkret agar mudah dipahami oleh para sahabat.

Dalam hadits tersebut, Nabi menyebutkan dua jenis niat hijrah:
Hijrah karena Allah dan Rasul-Nya – maka ia akan mendapat pahala dan dicatat sebagai ibadah.
Hijrah karena dunia atau wanita – maka ia hanya mendapat apa yang ia niatkan, tidak bernilai ibadah.

Dari sini kita pahami bahwa setiap amalan itu pasti memiliki niat, dan nilai amal tergantung niatnya. Inilah makna dari hadits “Innamal a’malu binniyyat”Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya.
Contohnya:
Jika seseorang hijrah karena Allah, maka nilainya ibadah.
Jika ia hijrah demi dunia, maka itu hanya urusan dunia.
Demikian pula amalan lain, seperti mandi. Bisa jadi mandi itu hanya sekadar kebiasaan untuk menyegarkan badan, tapi bisa juga mandi yang bernilai ibadah – seperti mandi junub atau mandi Jumat – tergantung niatnya.
Contoh lain, seseorang tidak makan dari pagi hingga sore. Itu bisa jadi hanya karena program diet, atau bisa jadi itu adalah puasa. Maka, niatlah yang membedakan: apakah ia mendapat pahala, atau sekadar lapar karena tujuan duniawi.

Termasuk juga sholat, ia adalah ibadah murni yang tidak mirip dengan kebiasaan (adat). Maka tidak ada pilihan lain kecuali meniatkannya hanya untuk Allah. Bila sholat ditujukan kepada selain Allah, maka itu adalah syirik.


Ini berlaku pada jenis amalan pertama, yakni ibadah murni—amalan yang tidak menyerupai adat sama sekali, seperti shalat. Maka, niat di sini harus ikhlas untuk Allah.


Ada juga jenis amalan kedua yang bercampur dengan adat/kebiasaan, seperti:
Mandi: bisa hanya untuk menyegarkan diri (adat), tapi jika diniatkan untuk ibadah (misal mandi Jumat atau mandi janabah), maka bernilai ibadah.
Hijrah: pindah tempat bisa sekadar karena dunia, tapi jika diniatkan karena Allah dan Rasul-Nya, maka menjadi ibadah.
Tidak makan dari pagi sampai sore: jika karena diet, itu hanya adat. Tapi jika diniatkan puasa karena Allah, maka bernilai ibadah.
Intinya: "Amal bisa berubah menjadi ibadah hanya dengan niat yang benar."
Seorang yang meniatkan amal karena Allah, maka ia mendapatkan pahala. Tapi jika amal tersebut diniatkan bukan untuk Allah, ia tidak berdosa, tapi sangat merugi, karena amal itu hanya bernilai duniawi, bukan ibadah.

Bahkan hal sepele pun bisa jadi ibadah dengan niat, sebagaimana
ucapan Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu 'anhu:
Ketika beliau ditanya tentang aktivitas malamnya, ia menjawab:
“Aku tidur dan aku bangun untuk shalat malam. Dan aku mengharapkan pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharapkan pahala dari bangunku.”


Artinya, Mu’adz meniatkan tidurnya sebagai sarana ibadah, agar bisa bangun dan kuat menjalankan shalat malam. Maka, tidur pun bisa bernilai ibadah, jika niatnya benar.
Demikian juga kerja mencari nafkah. Jika diniatkan semata-mata karena tanggung jawab sebagai kepala keluarga, maka hanya bernilai adat. Tapi jika diniatkan karena Allah, maka bernilai ibadah.

Namun, ada pula jenis ketiga dari amalan, yaitu:
Amalan haram, seperti mencuri, menipu, atau merampok.
Meskipun seseorang berkata, “Saya mencuri untuk disedekahkan kepada fakir miskin,” maka tetap saja itu tidak sah dan berdosa. Hadits tentang niat tidak bisa diterapkan pada amalan haram.
Kenapa? Karena setiap hadits harus diterapkan bersama hadits lain.
Dalam Islam, suatu amalan tidak diterima kecuali memenuhi dua syarat:
Ikhlas, karena Allah – ini adalah pembahasan kita.
Mutaba’ah, yaitu sesuai contoh dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana sabda beliau:

((من عمل عمال ليس عليه أمرنا فهو رد))
“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”
(HR. Muslim)



Maka, orang yang melakukan maksiat atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat, tidak bisa beralasan bahwa niatnya baik. Karena niat yang baik tidak menghalalkan cara yang salah.
Oleh sebab itu, marilah kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar:
Kita senantiasa memperbaiki niat,
Baik di awal, di tengah, maupun di akhir amal.

Karena memperbaiki niat itu bukan perkara ringan. Berkata Sufyan ats-Tsauri :

"ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي إنها تتقلب علي"

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku obati daripada niatku. Karena niat itu sering berubah-ubah.”

Maka, hendaknya kita selalu introspeksi diri dan senantiasa memperbaharui niat dalam setiap amal yang kita lakukan.
Semoga Allah menjadikan semua amalan kita ikhlas karena-Nya. Aamiin.


Jumat, 19 Syawal 1446 / 18 April 2025

baca selanjutnya “Amalan Tergantung Niat”

Senin, 14 April 2025

Hikmah di Balik Ujian dan Cobaan

Hikmah di Balik Ujian dan Cobaan

(Transkrip khutbah jumat)


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


KHUTBATUL HAJAH (MUKADIMAH) :


إِنَّ الْـحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.


Segala puji bagi Allah. Kita memohon ampun kepada-Nya dari keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ


Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan Muslim.


يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا


Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa (Adam), dan dari jiwa itu Allah menciptakan pasangannya (Hawa), dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahim. Sungguh, Allah senantiasa mengawasi kalian.



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۚ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amal perbuatan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia telah mendapatkan kemenangan yang besar.

Amma ba’du,



أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan, dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.

ISI KHUTBAH :

Ibadallah, kaum Muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah,

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan karunia-Nya, sehingga kita dimudahkan kembali untuk melaksanakan ibadah yang mulia ini, yaitu shalat Jum’at berjamaah.

Sebagai seorang Muslim, kita wajib menghadiri shalat Jum’at. Dan tentunya, seorang Muslim yang baik tidak hanya menjadikan ibadah sebagai rutinitas biasa. Namun, dia berusaha mengambil manfaat dari setiap amalnya. Terlebih lagi ini adalah ibadah.

Sudah semestinya kita mengambil pelajaran dari khutbah Jum’at, lalu mengamalkannya jika sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah,

Ketahuilah bahwa hidup di dunia ini pasti akan diiringi dengan ujian dan cobaan. Setiap orang, terlebih lagi orang yang beriman, pasti akan diuji oleh Allah.

Siapa saja yang mengucapkan syahadat ‘Lā ilāha illallāh’ dan mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tentu tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa diuji.

Allah berfirman dalam surat Al-‘Ankabūt ayat 1–3:

الم * أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ * وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Artinya:
"Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman', dan mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka pasti Allah mengetahui orang-orang yang benar dan pasti Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al-Ankabut: 1–3)


Ujian itu menimpa seluruh manusia, tidak terkecuali. Bukan hanya orang biasa yang penuh dosa, tapi bahkan para Nabi pun diuji oleh Allah. Bahkan ujian yang menimpa para Nabi adalah ujian yang paling berat.

Sebagaimana diceritakan bahwa Sa’ad bin Abī Waqqās radhiyallāhu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?”

Beliau menjawab:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang terbaik setelah mereka, kemudian yang berikutnya.”

Kemudian Rasulullah bersabda:

يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ، زِيدَ فِي بَلَائِهِ

“Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika dalam agamanya ada keteguhan, maka ujiannya akan ditambah.”


Sesungguhnya ujian itu terasa semakin berat, bahkan menimpa para nabi. Maka jika iman seseorang lemah, saat melihat musibah seperti ini, ia akan merasa sangat tertekan. Padahal, ujian yang datang akan sesuai dengan kadar keimanan seseorang.

Ketika kita mengetahui bahwa para nabi pun mendapatkan ujian dan cobaan, semoga pengetahuan itu menjadikan kita lebih ringan dalam menghadapi ujian hidup. Musibah yang kita alami terasa lebih ringan dibandingkan dengan apa yang dihadapi oleh para nabi.

Saat seseorang merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling berat ujiannya, maka ingatlah: semua orang mendapatkan ujian. Bahkan, ujian yang paling berat adalah ujian para nabi.

Tentang ujian dan cobaan, penting untuk diketahui bahwa ketika kita mendengar kata "ujian", yang pertama kali muncul dalam pikiran adalah musibah: kemiskinan, kebakaran, kekurangan harta, dan semisalnya. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan bahwa ujian tidak hanya berupa kemiskinan atau musibah, tetapi juga bisa berupa kekayaan dan kesenangan.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Anbiya:

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
"Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami kalian akan dikembalikan."
(QS. Al-Anbiya: 35)

Jadi bentuk ujian bukan hanya berupa kekurangan harta atau bencana, tetapi juga berupa kenikmatan: harta, jabatan, anak, bahkan pernikahan – semuanya adalah ujian dari Allah.

Para ulama bahkan menyebutkan bahwa ujian berupa kenikmatan dan kekayaan lebih berat dibandingkan ujian kemiskinan. Karena, biasanya ketika seseorang diuji dengan kekurangan, ia justru semakin dekat kepada Allah. Misalnya saat musibah banjir datang, orang akan segera mengingat Allah.

Namun ketika seseorang diberi amanah berupa harta, kekuasaan, dan jabatan, justru banyak dari kita yang semakin lupa kepada Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda bahwa yang paling beliau khawatirkan bukanlah kemiskinan umatnya, tetapi kelapangan dunia. Beliau bersabda:

مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ، كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
"Bukanlah kemiskinan yang aku takutkan atas kalian. Namun aku khawatir dunia akan dibukakan untuk kalian sebagaimana telah dibukakan untuk umat-umat sebelum kalian. Lalu kalian berlomba-lomba (mendapatkannya) sebagaimana mereka telah berlomba-lomba, dan akhirnya dunia membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, ketika kita mendapatkan kelebihan harta, anak, jabatan, itu semua adalah ujian dan amanah. Bisakah kita mengemban amanah tersebut? Bisakah nikmat itu menjadi sebab kita makin dekat kepada Allah?

Ukuran kebaikan bukan pada kaya atau miskin. Kita tidak bisa mengatakan bahwa orang miskin tidak dicintai Allah, atau orang kaya pasti dicintai-Nya. Bukan itu ukurannya. Ukurannya adalah bagaimana seseorang menyikapi kekayaan dan kemiskinan tersebut.

Kalau kekayaan adalah ukuran kebaikan dari Allah, tentu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang paling kaya. Tapi kenyataannya, kehidupan beliau sangat sederhana.

Kalau kemiskinan adalah tanda kebencian Allah, maka Fir'aun seharusnya adalah orang yang paling miskin. Padahal ia sangat durhaka kepada Allah, tapi justru memiliki kekayaan melimpah. Maka jelas, kaya atau miskin bukanlah ukuran utama, melainkan bagaimana seseorang menyikapi takdir tersebut.

KHUTBAH KE DUA :

Hadirin yang dirahmati Allah,

Di negeri kita tercinta, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mentakdirkan kaum muslimin, khususnya di Indonesia, untuk diuji dengan berbagai musibah. Baik berupa pandemi yang melanda seluruh dunia, maupun musibah banjir dan bencana alam yang terjadi di berbagai tempat akhir-akhir ini.

Sebagai orang beriman, kita tidak hanya memandang musibah sebagai penderitaan semata. Kita harus mampu mengambil hikmah di balik setiap ujian yang Allah turunkan kepada kita.

Para ulama menyebutkan banyak sekali hikmah dan rahasia yang tersembunyi di balik musibah yang menimpa kaum muslimin. Namun dalam kesempatan yang terbatas ini, kita akan menyebutkan satu hikmah utama: bahwa hakikat dari musibah adalah peringatan (teguran) dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Mengapa? Karena ada di antara kita yang mulai lalai terhadap Allah. Maka Allah menegur hamba-hamba-Nya dengan musibah agar mereka kembali sadar dan mengingat-Nya. Jangan sampai kita hidup dalam kenikmatan dunia tanpa pernah mendapatkan teguran, lalu akhirnya lalai dan terlena. Tetapi jika Allah menegur, justru itu adalah rahmat, karena kita masih diberi kesempatan untuk sadar dan kembali sebelum datang penyesalan yang tiada guna.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..."
لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (bertaubat)."
(QS. Ar-Rum: 41)

Maka ketika kita mendengar musibah terjadi di berbagai tempat, janganlah kita memperkeruh keadaan. Jangan terburu-buru menyalahkan satu pihak, apalagi pemerintah. Ingatlah bahwa ini adalah tanggung jawab kita bersama.

Tugas kita adalah membantu mereka yang tertimpa musibah, baik dengan harta, tenaga, doa, maupun dukungan moral. Dan yang paling penting, masing-masing dari kita harus kembali kepada Allah dengan memperbanyak istighfar dan taubat.

Selagi musibah itu belum menimpa kita secara langsung, mari kita ambil pelajaran dari yang lain. Jangan sampai suatu hari kita justru menjadi contoh yang diambil pelajaran oleh orang lain karena kelalaian kita sendiri.

Semoga dengan musibah yang terjadi ini, kita semakin dekat kepada Allah, semakin sadar akan kelemahan kita, dan semakin giat dalam memperbaiki diri dan masyarakat kita.



Kita semua perlu memperbanyak istighfar, memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita masih diberi kesempatan hidup, diberi waktu untuk memperbaiki diri, dan mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa orang lain.

Jangan sampai kita baru sadar setelah musibah menimpa diri kita sendiri—ketika kita sudah tiada, lalu orang lain yang mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut.

Maka, manfaatkanlah kesempatan ini sebaik-baiknya. Semoga musibah yang terjadi membuat kita semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jangan saling menyalahkan, karena pada hakikatnya kita semua memiliki andil, baik secara langsung—seperti karena kelalaian kita membuang sampah sembarangan—maupun secara tidak langsung karena dosa-dosa kita.

Dosa-dosa itu berpengaruh, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap masyarakat sekitar.

Terkadang kita lupa, saat sedang bekerja lalu di jalan kendaraan kita mogok, atau saat sampai di kantor lalu mendapat teguran dari atasan, kita hanya berpikir "kenapa tadi tidak mengecek kendaraan?" Itu memang benar, tapi kita lupa untuk introspeksi diri—dosa apa yang kita lakukan tadi pagi? Dosa apa yang kita perbuat malam sebelumnya?

Jangan hanya ketika ada banjir besar kita menyalahkan pemerintah. Tapi ketika musibah kecil terjadi pada diri sendiri, kita malah lupa untuk mengevaluasi dosa kita sendiri. Maka hendaknya kita semua mengambil pelajaran (ibrah) dari setiap kejadian, sekecil apapun itu. Jadikan setiap peristiwa sebagai jalan untuk semakin mendekat kepada Allah.

Jika ujian yang datang justru membuat kita semakin sadar, semakin ingat kepada Allah, semakin mendekat kepada-Nya, maka itu adalah kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
"Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, semua urusannya adalah kebaikan. Dan itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang mukmin. Jika mendapatkan kebahagiaan, dia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa musibah, dia bersabar, maka itu juga baik baginya."
(HR. Muslim)

Kita juga tidak boleh lupa untuk mendoakan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Semoga Allah meringankan beban mereka, mengangkat musibah dari negeri kita, dan memberi kita semua kekuatan serta kesabaran dalam menghadapi ujian.

Doa:

اللَّهُمَّ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا
"Ya Allah, limpahkan kepada kami kesabaran, dan teguhkanlah kaki-kaki kami."

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka."
(QS. Al-Baqarah: 201)

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



(Khutbah Jumat, 26 Februari 2021)


baca selanjutnya “Hikmah di Balik Ujian dan Cobaan”