Kamis, 24 September 2026

Bulughul Maram 001

📝 RINGKASAN AUDIO KAJIAN 

💺🎙 Al-Ustadz Abu Muawiyah Idris حفظہ الله تعالــﮯ

📚 Materi :
"Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam 
(Karya Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalany رحمه الله )

📌 "Muqaddimah Muallif"

📼 Pertemuan Ke-1

🗓 Rabu malam, 12 Rabiul Akhir 1448 H / 23 September 2026 M
 
📍🕌 Masjid Al-Khoir Ma'had Daarul Atsaar Purwakarta

#bulughulmaram@salafypurwakarta
https://t.me/bulugh_almarom

⚠️ Mukadimah: Mengenal Kitab Bulughul Marām dan Biografi Penulisnya

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Sebelumnya kita telah membahas kitab Manhajus Sālikīn yang membahas tentang fiqih dan alhamdulillah telah selesai. Kini, kita dilanjutkan kembali untuk membahas tentang fiqih melalui kitab Bulughul Marām.

Mempelajari fiqih secara umum termasuk ke dalam tafaqquh fiddin (memperdalam ilmu agama). Rasūlullāh ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allāh ﷻ kehendaki kebaikan, maka Allāh ﷻ akan pahamkan dia dalam agamanya.” (HR. Bukhāri dan Muslim)

Maka, semoga kajian ini menjadi bentuk usaha kita dalam memahami agama Allāh ﷻ.

📌 Sekilas Tentang Penulis: Al-Hāfizh Ibnu Hajar al-Asqalānī رحمه الله

Sebagai mukadimah, penulis kitab Bulughul Marām ini adalah ulama yang dikenal dengan Ibnu Hajar al-Asqalānī. Nama lengkap beliau dengan huruf ‘ain, sīn, qāf, lām, alif, dan nūn: العَسْقَلَانِي. 

Biografi ringkas Al-Hāfizh Ibnu Hajar al-Asqalānī رحمه الله : 
Laqab (gelar) beliau adalah Syihābuddīn, kunyah beliau adalah Abul Fadhl, dan nama beliau adalah Aḥmad. Jika diringkas, nama beliau adalah Aḥmad bin ‘Alī bin Muḥammad. Namun, jika ditelusuri lebih lanjut ke atas, nasab beliau dalam sebagian kitab disebutkan secara lengkap: Aḥmad bin ‘Alī bin Muḥammad bin Muḥammad bin ‘Alī bin Maḥmūd bin Aḥmad. Perbedaan penyebutan kakek-kakek (ajdād) ini wajar terjadi di sebagian kitab, ada yang menyebutkan secara ringkas dan ada yang secara lengkap.

Jika antum perhatikan silsilah nama beliau yang lengkap, urutannya seperti terbalik bagaikan sebuah cermin: Aḥmad bin ‘Alī bin Muḥammad bin Muḥammad bin ‘Alī bin Aḥmad.

Lantas, dari mana beliau dikenal dengan sebutan Ibnu Hajar? Salah satu murid beliau menyebutkan bahwa "Ibnu Hajar" adalah laqab dari salah satu kakeknya. Dari silsilah kakek-kakek yang disebutkan tadi, ada yang dijuluki dengan laqab Hajar. Sehingga, keturunan beliau dikenal dengan sebutan Ibnu Hajar.

Adapun nisbah "al-Asqalānī", ini dinisbatkan kepada Asqalān, yaitu nama sebuah kota di Palestina, dekat dengan Gaza. Namun, bukan berarti beliau lahir di Palestina. Nisbah ini kembali kepada kakek-kakek beliau yang dulunya merupakan orang Asqalān. Adapun Ibnu Hajar sendiri dilahirkan di Mesir pada tanggal 12 Sya’bān tahun 773 Hijriyah, atau sekitar 700 tahun yang lalu. Beliau tumbuh besar di Mesir. Kedua orang tuanya meninggal ketika beliau masih kecil; ibunya wafat lebih dulu, disusul oleh ayahnya.

Di antara yang menunjukkan kecerdasan beliau adalah beliau telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’ān di usia 9 tahun. Pada usia yang belia tersebut, beliau juga telah menghafal banyak matan-matan ilmu.

Perjalanan ringkas beliau dalam menuntut ilmu sangatlah luas. Beliau pergi ke Makkah dan Madinah (al-Ḥaramain asy-Syarīfain), kemudian ke Damaskus, Baitul Maqdis, dan juga menuntut ilmu ke Shan’a di Yaman.

Karya-karya beliau secara umum mencapai sekitar 150 tulisan. Karya beliau yang paling terkenal adalah Fatḥul Bārī, yaitu syarah (penjelasan) untuk Ṣaḥīḥ al-Bukhāri. Di antara karya beliau yang lainnya adalah Tahdzīb at-Tahdzīb, yang merupakan kumpulan biografi para rijālul ḥadīts. Beliau juga menulis kitab Al-Iṣābah fī Tamyīz as-Ṣaḥābah, yang membahas biografi para sahabat رضي الله عنهم. Dan tentu saja, kitab yang akan kita pelajari ini, Bulughul Marām min Adillatil Aḥkām, termasuk karya beliau yang sangat terkenal.

Di antara murid beliau yang paling terkenal adalah Al-‘Allāmah as-Sakhāwī رحمه الله. Beliau inilah yang menulis biografi tentang gurunya, Ibnu Hajar, dalam sebuah kitab yang berjudul Al-Jauhar wad-Durar fī Tarjamatil Ḥāfiẓh Ibnu Hajar. Bagi yang ingin merujuk biografi Ibnu Hajar رحمه الله secara lebih lengkap, bisa merujuk kepada kitab Al-Jauhar karya as-Sakhāwī tersebut.

📌 Keistimewaan Kitab Bulughul Marām

Sekilas tentang kitab Bulughul Marām, kitab ini adalah kumpulan hadis-hadis yang berkenaan dengan adillatul aḥkām (dalil-dalil hukum fiqih). Jumlah hadis di dalamnya sekitar 1.500 hadis. Penomorannya mungkin berbeda-beda di berbagai cetakan, karena terkadang ada penerbit yang menggabungkan dua hadis pendek menjadi satu nomor, namun hal itu tidak menjadi masalah. Kitab ini termasuk kitab yang masyhur, penuh berkah, dan sangat bermanfaat bagi kaum muslimin.

📌 Kitab Bulughul Marām memiliki beberapa keistimewaan, di antaranya:

📍 Pertama, penulisnya menyebutkan derajat hadis. Setelah menyebutkan hadis, di belakangnya terdapat keterangan apakah hadis tersebut ṣaḥīḥ, ḥasan, atau ḍa'īf. Ini sangat memudahkan pembaca.

📍 Kedua, penulisnya mencukupkan pada lafaz yang dijadikan dalil saja. Beliau meringkas hadis yang panjang dengan hanya mengambil bagian yang menjadi pendalilan dari bab tersebut. Hal ini membuat kitab menjadi ringkas, tidak berjilid-jilid seperti kitab hadis lainnya, namun tetap padat berisi.

📍 Ketiga, apabila ada riwayat lain yang memiliki tambahan lafaz (ziyādah) yang berfaedah, maka akan langsung ditambahkan dengan keterangan wa fī riwāyah (dan di dalam riwayat yang lain).

📍 Keempat, Ibnu Hajar رحمه الله menyaring dan menyeleksi hadis-hadisnya hanya dari kitab-kitab hadis yang terkenal (Kutubul Ḥadīts al-Masyhūrah), seperti Ṣaḥīḥain (Bukhāri dan Muslim), Sunan Abī Dāwūd, Tirmidzi, An-Nasā'ī, Ibnu Mājah, Musnad Aḥmad, dan yang lainnya. Sehingga kita akan mudah merujuknya.

📍 Kelima, beliau sering mengedepankan hadis dari Ṣaḥīḥain di awal setiap babnya. Ini menjadikan 'umdah (pondasi) hadis dari pembahasan satu bab adalah hadis yang paling sahihnya, baik itu muttafaqun 'alaih atau dari salah satu dari keduanya.

📍 Keenam, beliau menyusun bab-bab kitabnya berdasarkan urutan bab-bab fiqih (seperti Thahārah, Ṣalāt, dan seterusnya). Namun, di bagian akhir, beliau menambahkan kumpulan hadis-hadis tentang adab dan akhlak yang dikenal dengan Kitābul Jāmi'. Sehingga faedah kitab ini semakin meluas, tidak hanya sebatas fiqih, tetapi juga mencakup adab dan akhlak.

Karena keistimewaan-keistimewaan ini, kitab Bulughul Marām disyarah oleh banyak ulama, baik terdahulu maupun sekarang, seperti Syaikh Ibnu ‘Utsaimīn رحمه الله, Syaikh Bin Bāz رحمه الله, dan Syaikh Ṣāliḥ al-Fauzān حفظه الله. Kitab ini juga hampir selalu menjadi kurikulum di setiap markas ilmu atau pondok pesantren.

⚠️ Syarah Mukadimah Penulis

Selanjutnya, kita masuk ke mukadimah (pendahuluan) yang ditulis oleh Ibnu Hajar رحمه الله. Sebelum masuk kepada hadis yang pertama, beliau membuka dengan kalimat yang sangat agung:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، قَدِيمًا وَحَدِيثًا.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ مُحَمَّدٍ، وَآلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِينَ سَارُوا فِي نَصْرِ دِينِهِ سَيْرًا حَثِيثًا.

Kita mencoba mensyarah kalimat-kalimat ini dengan mengutip dari beberapa kitab syarah.

Setelah basmalah, beliau mengucapkan الْحَمْدُ لِلَّهِ. Perhatikan adanya alif lām (ال) pada kata al-ḥamdu. Ini disebut dengan alif lām lil istighrāq, yaitu alif lām yang bermakna mencakup keseluruhan. Ciri alif lām istighrāqiyah adalah al (ال) tersebut bisa diubah menjadi kata kullu (seluruh/segala). Jadi, al-ḥamdu bermakna kullu ḥamd (segala pujian).

Apa itu al-ḥamd? Para ulama mendefinisikan:

هُوَ وَصْفُ الْمَحْمُودِ بِالْكَمَالِ مَعَ الْمَحَبَّةِ وَالتَّعْظِيمِ
“Al-ḥamd adalah mensifati yang dipuji dengan kesempurnaan, disertai dengan rasa cinta dan pengagungan.”

Mengapa harus disertai mahabbah (cinta) dan ta'zhīm (pengagungan)? Karena ada pujian yang tidak disertai dengan keduanya, misalnya seseorang memuji raja karena takut atau mengharapkan harta. Pujian semacam ini disebut al-madḥu (pujian biasa). Adapun al-ḥamd adalah pujian yang diiringi dengan kecintaan dan pengagungan.

Kemudian kalimat lillāh (لله). Lām di sini bermakna lām lil ikhtiṣāṣ (pengkhususan) atau lām lil istihqāq (kelayakan). Artinya, segala pujian yang sempurna itu hanyalah khusus milik Allāh ﷻ, atau hanya Allāh ﷻ yang paling berhak mendapatkannya. Allāh ﷻ Maha Mengetahui dengan ilmu yang paling sempurna, tidak seperti ilmu makhluk-Nya. Maka, pujian yang kāmil (sempurna) hanya pantas ditujukan kepada Allāh ﷻ.

Selanjutnya, عَلَى نِعَمِهِ (atas nikmat-nikmat-Nya). Ni'am adalah jamak dari نِعْمَةٌ (kenikmatan). Kenikmatan Allāh ﷻ terbagi dua: aẓ-ẓāhirah (yang nampak) dan al-bāṭinah (yang tersembunyi). Kenikmatan yang zhahir adalah apa yang terlihat oleh manusia, seperti keamanan, kelapangan rezeki, kekuatan fisik, makan, dan minum. Adapun kenikmatan yang batin adalah apa yang tidak dilihat orang lain, seperti nikmatnya iman, ketenangan hati, tawakal, dan keyakinan.

Kemudian kata قَدِيمًا وَحَدِيثًا (baik yang terdahulu maupun yang baru/akan datang). Kita memuji Allāh ﷻ atas nikmat yang sedang kita rasakan, yang telah lalu, maupun yang akan datang. Allāh ﷻ berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. Ibrāhīm: 34)

Jika nikmat yang sekarang saja tidak mampu kita hitung, apalagi nikmat qadīman (yang telah lalu sejak kita lahir). Hal ini menyadarkan kita bahwa selama ini kita sangat kurang dalam bersyukur. Kita sering lupa mensyukuri nikmat ibadah yang pernah kita rasakan di masa lalu, dan hanya mengingat kesusahan yang sedang dihadapi saat ini.

📌 Memaknai Shalawat dan Salam kepada Nabi ﷺ

Setelah memuji Allāh ﷻ, Ibnu Hajar رحمه الله bershalawat: وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ مُحَمَّدٍ... (Selawat dan salam kepada Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad...).

Apa makna ash-shalāt (shalawat)? Definisi yang paling bagus tentang makna shalawat adalah perkataan Abul 'Āliyah رحمه الله yang diriwayatkan oleh Al-Imām Bukhāri رحمه الله:

صَلَاةُ اللَّهِ ثَنَاؤُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَلَائِكَةِ، وَصَلَاةُ الْمَلَائِكَةِ الدُّعَاءُ
“Shalawat Allāh ﷻ adalah pujian-Nya kepada Nabi ﷺ di hadapan para malaikat. Sedangkan shalawat para malaikat (dan makhluk lainnya) adalah doa.”

Jadi, makna shalawat berbeda jika dinisbatkan kepada Allāh ﷻ dan kepada makhluk-Nya. Jika Allāh ﷻ bershalawat, maknanya adalah Allāh ﷻ memuji Nabi ﷺ di hadapan para malaikat-Nya. Adapun jika kita atau para malaikat bershalawat, maknanya adalah kita berdoa untuk Nabi ﷺ. Syaikh Ibnu ‘Utsaimīn رحمه الله menyebutkan bahwa sebagian ulama juga menafsirkan shalawat sebagai raḥmah khāṣṣah (rahmat yang khusus) bagi Nabi ﷺ, berbeda dengan rahmat umum bagi makhluk lainnya.

Adapun as-salām (salam), maknanya adalah keselamatan, yaitu mendoakan keselamatan Nabi ﷺ dari segala musibah dan kekurangan.

📌 Faidah: Penyebutan Nama Nabi ﷺ di dalam Al-Qur’ān

Terdapat faedah menarik dari lafaz nama Muḥammad dalam mukadimah ini. Pertanyaan, Berapa kali lafaz "Muḥammad" disebutkan di dalam Al-Qur’ān?

Lafaz Muḥammad disebutkan di dalam Al-Qur’ān sebanyak empat kali, yaitu:

1. QS. Āli ‘Imrān ayat 144
2. QS. Al-Aḥzāb ayat 40
3. QS. Muḥammad ayat 2
4. QS. Al-Fatḥ ayat 29

Adapun nama beliau yang lain, yaitu "Aḥmad", disebutkan satu kali di dalam QS. Aṣ-Ṣaff ayat 6.

Mungkin untuk sementara waktu kita cukupkan pembahasan mukadimah ini. Sambil menunggu, insyaAllāh pada pertemuan berikutnya antum semua sudah lebih banyak yang memegang kitab Bulughul Marām agar kita bisa langsung masuk ke hadis-hadisnya.

Channel :
https://t.me/santridaarulatsaarpwk
https://whatsapp.com/channel/0029Vb7q5LDHbFV86iufx426

🔗https://t.me/Faedah_Al_Ustadz_Mahmud_Barjib
🔗https://whatsapp.com/channel/0029VbBZHEq1yT2BlciPqG0R
🔗 https://www.facebook.com/share/1abipYntqW/
🔗 https://t.me/salafypurwakarta
🔗 https://t.me/firqotun_naajiyah

0 komentar:

Posting Komentar