Jumat, 20 Februari 2026

Menyambut Ramadhan

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du:

Nabi kita ﷺ dahulu memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan datangnya bulan Ramadan yang penuh berkah. Beliau bersabda:

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh keberkahan. Dibuka di dalamnya pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa terhalang dari kebaikannya, maka sungguh ia telah terhalang (dari kebaikan yang besar).”

Bulan yang mulia ini adalah kesempatan besar bagi seorang hamba untuk kembali kepada Rabbnya, bertaubat, kembali dan bersungguh-sungguh menghadap kepada Tuhan yang telah menciptakannya. Maka seorang mukmin hendaknya berhenti sejenak mengevaluasi dirinya dan membuka lembaran baru dengan taubat yang tulus dan ikhlas karena Allah Ta’ala.

Di antara hal terpenting dalam menyambut bulan ini adalah menyadari bahwa ketika Allah masih mempertemukan kita dengan Ramadan, itu adalah nikmat yang sangat besar. Betapa banyak orang yang tidak sampai kepada bulan ini, atau tidak diberi taufik untuk berpuasa, atau tidak termasuk orang yang memanfaatkannya dengan baik. Maka sampainya kita kepada Ramadan adalah nikmat agung, dan hak nikmat itu adalah disyukuri.

Syukur atas nikmat secara umum dilakukan dengan hati, lisan, dan anggota badan.

  • Syukur dengan lisan: menyadari bahwa ini murni karunia Allah, lalu memuji dan bersyukur kepada-Nya.
  • Syukur dengan hati: meyakini bahwa semua nikmat itu datang dari Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.
  • Syukur dengan amal: menunaikan kewajiban puasa dengan benar, sesuai cara yang diridhai Allah.

Sebagaimana diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu: “Jika engkau berpuasa, maka hendaklah lisanmu, pendengaranmu, dan penglihatanmu ikut berpuasa. Jauhilah dusta dan dosa. Jauhilah menyakiti tetangga dan pelayan.”

Puasa bukan sekadar meninggalkan makan dan minum. Dalam hadis disebutkan bahwa Allah tidak butuh seseorang meninggalkan makan dan minumnya jika ia tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa. Puasa yang hakiki adalah puasa dari maksiat dan dosa. Bersihkan hati, lisan, dan seluruh anggota badan dari kesalahan di bulan ini.

Kita semua adalah hamba yang penuh dosa dan kekurangan. Di antara nikmat terbesar dari Allah adalah adanya musim-musim kebaikan seperti Ramadan. Kita akan ditanya tentang umur kita, dan umur itu termasuk kesempatan-kesempatan emas seperti Ramadan.

Allah mempergantikan bagi hamba-Nya musim-musim ibadah: Ramadan, Syawal, Sya’ban, musim haji, bulan-bulan haram, hari raya, dan lainnya. Orang yang berbahagia adalah yang memanfaatkan semua itu untuk kebaikan.

Di bulan ini, seorang hamba wajib mengikhlaskan niat hanya karena Allah. Jangan berpuasa kecuali untuk Allah. Jangan berdoa kecuali kepada Allah. Jangan mengharap balasan kecuali dari Allah. Puasa, sedekah, membaca Al-Qur’an, shalat, dan semua amal harus murni karena Allah, bukan karena riya atau ingin dipuji.

Termasuk hal penting dalam menyambut Ramadan adalah menguatkan tekad untuk beramal saleh. Niatkan dalam hati untuk berbuat baik: khatam Al-Qur’an, rajin ke masjid, menjaga shalat. Jika seseorang sudah berniat kuat namun terhalang karena uzur, tetap dicatat baginya pahala sesuai niatnya.

Sebagian orang mengira Ramadan hanya siang hari saja. Di siang hari ia menjaga diri, namun di malam hari tenggelam dalam tontonan, gosip, dan menyia-nyiakan waktu. Padahal Ramadan seluruhnya penuh berkah, siang dan malamnya. Bahkan sepuluh malam terakhir lebih utama karena di dalamnya ada Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan beliau paling dermawan ketika Ramadan. Kedermawanan itu mencakup segala bentuk kebaikan: sedekah, membaca Al-Qur’an, silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga, dan semua amal kebajikan.

Hal penting lainnya adalah mempelajari hukum-hukum puasa. Jangan beribadah tanpa ilmu. Pelajari sunnah Nabi ﷺ, ketahui apa yang membatalkan puasa, apa yang wajib dijauhi, dan apa yang boleh dilakukan. Jika ragu, bertanyalah kepada ahli ilmu.

Terakhir, perbanyaklah doa agar Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang diterima amalnya. Bisa jadi seseorang letih berpuasa di siang hari dan qiyam di malam hari, namun tidak diterima. Sungguh kerugian besar jika amal tidak diterima.

Keuntungan sejati adalah ketika Allah menerima amal kita. Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa. Maka mohonlah kepada Allah agar menerima puasa, doa, shalat, dan bacaan Al-Qur’an kita. Akui kekurangan diri meski telah banyak beramal.

Inti Ramadan adalah membuka pintu baru untuk kembali kepada Allah. Kita tidak tahu kapan ajal datang. Bisa jadi kita tidak sempat bangun dari tempat duduk kita, atau tidak sempat melihat esok hari. Semua itu dalam ilmu Allah.

Semoga Allah menutup hidup kita dengan kebaikan, menjadikan kita termasuk orang-orang yang diterima amalnya di bulan ini, dan mengampuni kita serta kedua orang tua kita.

Wallahu a’lam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ.


(disarikan dari nasihat syaikh Kholid adz-Dzafiri)

0 komentar:

Posting Komentar