Kamis, 29 Maret 2012

KETINGGIAN ALLAH DI ATAS MAKHLUK SELURUHNYA (4)

 
OLeh Ustadz Kharisman
Pada artikel kali ini, kami akan melanjutkan bab tentang KETINGGIAN ALLAH DI ATAS MAKHLUK SELURUHNYA (3) yang sudah kami tampilkan pekan lalu.
dali yang Keenambelas: Nash-nash tentang penyebutan ‘Arsy dan sifatnya, dan seringnya diidhafahkan kepada Penciptanya yaitu Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang berada di atasnya. Seperti disebutkan dalam ayat-ayat AlQur’an:
{رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ} [النمل: 26]
“Rabb Arsy yang Agung..”(Q.S AnNaml:126).
{وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ * ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ *} [البروج: 14 - 15]
“ Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Yang Memiliki Arsy yang mulya “(Q.S alBuruuj:14-15).
{رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ} [غافر: 15]
“(Allah)lah Yang Mengangkat derajat-derajat, yang memiliki ‘Arsy” (Q.S Ghafir:15).
Penyebutan bahwa Allah istiwa’ di atas ‘Arsy telah dikemukakan dalam sisi pendalilan kesepuluh di atas.
عنْ أبي هريرةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فاسْأَلُوهُ الفِرْدَوسَ فإنَّهُ أوسطُ الجنَّةِ، وأعلى الجنَّةِ، وفوقَهُ عرشُ الرَّحْمنِ»
Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus karena sesungguhnya ia adalah tengah-tengah Jannah, dan Jannah yang paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy ArRahmaan” (H.R al-Bukhari).
Ketujuhbelas: Aqidah Nabi-nabi sebelumnya secara tegas menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berada di atas. Hal ini sebagaimana dakwah Nabi Musa kepada Fir’aun, tetapi Fir’aun menentangnya. Sebagaimana dikisahkan dalam AlQur’an:
{وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَاهَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الأَسْبَابَ *} {أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأََظُنُّهُ كَاذِبًا} [غافر: 36 – 37[
Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta (Q.S Ghafir/Mu’min: 36-37).
Ibnu Jarir atThobary menyatakan: maksud ucapan (Fir’aun): Sesungguhnya aku memandangnya sebagai pendusta, artinya: Sesungguhnya aku mengira Musa berdusta terhadap ucapannya yang mengaku bahwasanya di atas langit ada Tuhan yang mengutusnya (Lihat tafsir AtThobary (21/387)).
Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah menyatakan:
“Maka Fir’aun mendustakan Musa dalam pengkhabarannya bahwa Rabbnya berada di atas langit… (I’laamul Muwaqqi’in juz 2 halaman 317).

Kedelapanbelas: Pensucian Allah terhadap diriNya bahwa Ia terjauhkan dari segala aib, cela dan kekurangan maupun penyerupaan.
Al-Imam Ahmad rahimahullah ketika membantah Jahmiyyah, beliau berdalil dengan ayat-ayat AlQur’an yang menunjukkan bahwa setiap penyebutan keadaan ‘rendah’ selalu dalam konteks celaan. Setelah menyebutkan dalil-dalil bahwa Allah berada di atas ketinggian, beliau menyatakan:
“Maka ini adalah khabar dari Allah. Allah mengkhabarkan kepada kita bahwa Ia berada di atas langit. Dan kami dapati segala sifat rendah sebagai tercela. Sebagaimana firman Allah:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka..” (Q.S AnNisaa’: 145).
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ الْأَسْفَلِينَ
Dan orang-orang kafir berkata: "Ya Rabb kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jinn dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina" (Q.S Fusshilat:29)
(Lihat ArRadd ‘alal Jahmiyyah waz Zanaadiqoh karya Imam Ahmad bin Hanbal halaman 147).
Ibnu Batthoh juga menyatakan: Tuhan kita Allah Ta’ala mencela keadaan rendah dan memuji yang tinggi. Sebagaimana dalam firmanNya:
كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ  
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam 'Illiyyin”.(Q.S al-Muthoffifiin: 18).
’Illiyyin adalah langit ke tujuh...
Dan Allah Ta’ala juga menyatakan:
كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ
“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin”(Q.S al-Muthoffifiin:7)
Sijjin yaitu lapisan bumi yang terbawah. (Lihat Ucapan Ibnu Batthoh tersebut dalam kitab al-Ibaanah juz 3 halaman 142-143).
Demikianlah, beberapa sisi pendalilan yang bisa kami sebutkan dalam tulisan ini. Pada tiap sisi pendalilan, terkandung banyak dalil dari AlQur’an maupun hadits yang shahih.
AQIDAH PARA SAHABAT NABI: ALLAH BERADA DI ATAS LANGIT
Setelah dikemukakan sisi-sisi pendalilan berdasarkan AlQur’an dan hadits-hadits yang shahih, berikut ini akan disebutkan ucapan-ucapan para Sahabat Nabi –ridlwaaanullaahi ‘alaihim ajmaiin- tentang keyakinan bahwa Allah berada di atas ‘ArsyNya atau di atas langit:
1) Abu Bakr as-Shiddiq radliyallaahu ‘anhu
Ketika Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam meninggal, Abu Bakr As-Shiddiq menyatakan:
أيها الناس ! إن كان محمد إلهكم الذي تعبدون فإن إلهكم قد مات ، وإن كان إلهكم الذي في السماء فإن إلهكم لم يمت ، ثم تلا   (وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم)  حتى ختم الآية
“ Wahai sekalian manusia! Jika Muhammad adalah sesembahan kalian yang kalian sembah, sesungguhnya sesembahan kalian telah mati. Jika sesembahan kalian adalah Yang berada di atas langit, maka sesungguhnya sesembahan kalian tidak akan mati. Kemudian Abu Bakr membaca firman Allah:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ
“ dan tidaklah Muhammad kecuali seorang Rasul, telah berlalu sebelumnya para Rasul. Apakah jika ia meninggal atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang(murtad)…”(Q.S Ali Imran:144).
Sampai Abu Bakar menyelesaikan bacaan ayat tersebut”(diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushonnafnya pada Bab Maa Ja-a fii wafaatin Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam nomor hadits 37021, al-Bazzar di dalam Musnadnya juz 1 halaman 183).
Riwayat perkataan Abu Bakr As-Shiddiq tersebut adalah shahih. Abu Bakr bin Abi Syaibah meriwayatkan dari Muhammad bin Fudhail dari ayahnya dari Nafi’ dari Ibnu Umar. Semua perawi tersebut (termasuk Abu Bakr bin Abi Syaibah yang merupakan guru Imam al-Bukhari) adalah rijal (perawi) al-Bukhari.
2)      Abdullah bin Mas’ud
Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud menyatakan:
ما بين السماء الدنيا والتي تليها مسيرة خمسمائة عام ، وبين كل سماءين مسيرة خمسمائة عام ، وبين السماء السابعة وبين الكرسي خمسمائة عام ، وبين الكرسي إلى الماء خمسمائة عام ، والعرش على الماء ، والله تعالى فوق العرش ، وهو يعلم ما أنتم عليه
“ Antara langit dunia dengan (langit) berikutnya sejauh perjalanan 500 tahun, dan antara 2 langit sejauh perjalanan 500 tahun, antara langit ke-7 dengan al-Kursiy 500 tahun, antara al-Kursiy dengan air 500 tahun, dan ‘Arsy di atas air, dan Allah Ta’ala di atas ‘Arsy dalam keadaan Dia Maha Mengetahui apa yang terjadi pada kalian” (diriwayatkan oleh Ad-Daarimi dalam kitab ArRaddu ‘alal Jahmiyyah bab Maa Bainas Samaa-id Dunya wallatii taliiha juz 1 halaman 38 riwayat nomor 34).
Riwayat perkataan Ibnu Mas’ud ini shohih. AdDaarimi meriwayatkan dari jalur Musa bin Isma’il dari Hammad bin Salamah dari ‘Ashim dari Zir (bin Hubaisy) dari Ibnu Mas’ud. Semua perawinya adalah rijaal al-Bukhari.
3)      Zainab bintu Jahsy
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ زَيْنَبَ بِنت جَحْشٍ كَانَتْ تَفْخَرُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم تَقُولُ: «زَوَّجَكُنَّ أَهَالِيكُنَّ وَزَوَّجَنِي اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سماوات» وفي لفظٍ: كانتْ تقولُ: «إِنَّ اللهَ أَنْكَحَنِي فِي السَّمَاءِ»
Dari Anas –semoga Allah meridlainya- bahwa Zainab binti Jahsy berbangga terhadap istri-istri Nabi yang lain, ia berkata: “Kalian dinikahkah oleh keluarga kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari atas tujuh langit”. Dalam lafadz lain beliau berkata: Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku di atas langit (H.R al-Bukhari).
4)      Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas)
Sahabat Nabi yang merupakan penterjemah AlQur’an ini, ketika menafsirkan firman Allah tentang ucapan Iblis yang akan mengepung manusia dari berbagai penjuru. Iblis menyatakan sebagaimana diabadikan oleh Allah dalam AlQur’an:
{ثُمَّ لآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ} [الأعراف: 17]
“Kemudian sungguh-sungguh aku akan mendatangi mereka dari arah depan mereka, dan dari belakang mereka, dan dari kanan dan kiri mereka” (Q.S al-A’raaf:17).
Abdullah bin Abbas menyatakan:

لم يستطعْ أنْ يقولَ: منْ فوقهم؛ عَلِمَ أنَّ الله منْ فوقهم
“ Iblis tidak bisa mengatakan : (mendatangi mereka) dari atas mereka, karena dia tahu bahwa Allah berada di atas mereka (diriwayatkan oleh AlLaa-likaa-i dalam Syarh Ushulis Sunnah halaman 661 dengan sanad yang hasan).
5)      Abdullah bin Umar
عن زيدِ بنِ أَسْلَمٍ قالَ: مَرَّ ابنُ عمرُ براعٍ فقال: هلْ منْ جَزَرَةٍ؟ فقالَ: ليسَ هاهنا ربُّها، قالَ ابنُ عمر: تقولُ لهُ: أكلَهَا الذئبُ. قالَ: فرفَعَ رأسَهُ إلى السَّماءِ وقالَ: فَأَيْنَ اللهُ؟ فقالَ ابنُ عمر: أنا واللهُ أحقُّ أنْ أقولَ: أَيْنَ اللهُ؟ واشترى الراعي والغنمَ، فأعتقهُ، وأعطاهُ الغنمَ
Dari Zaid bin Aslam beliau berkata: Ibnu Umar melewati seorang penggembala (kambing), kemudian beliau bertanya: apakah ada kambing yang bisa disembelih? Penggembala itu menyatakan: Pemiliknya tidak ada di sini. Ibnu Umar menyatakan: Katakan saja bahwa kambing tersebut telah dimangsa serigala. Kemudian penggembala kambing tersebut menengadahkan pandangannya ke langit dan berkata: Kalau demikian, di mana Allah? Maka Ibnu Umar berkata: Aku, Demi Allah, lebih berhak untuk berkata: Di mana Allah? Sehingga kemudian Ibnu Umar membeli penggembala dan kambingnya, memerdekakan penggembala tersebut dan memberikan padanya satu kambing itu” (diriwayatkan oleh Adz-Dzahaby dalam kitab al-‘Uluw halaman 860, dan Syaikh Muhammad Nashiruddin menyatakan bahwa sanad hadist ini jayyid (baik)).

           Demikianlah, sedikit penjelasan dalil-dalil dari AlQur’an dan AsSunnah yang shohihah yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhlukNya. Telah dikemukakan pula beberapa ucapan para Sahabat Nabi yang shorih (tegas) tentang aqidah tersebut.
Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan hidayahNya kepada kita semua

sumber : http://www.salafy.or.id/2012/02/07/ketinggian-allah-di-atas-makhluk-seluruhnya-4/
baca selanjutnya “KETINGGIAN ALLAH DI ATAS MAKHLUK SELURUHNYA (4)”

KETINGGIAN ALLAH DI ATAS SELURUH MAKHLUK-NYA (3)

 
OLeh Ustadz Kharisman
Pada artikel kali ini, kami akan melanjutkan bab tentang KETINGGIAN ALLAH DI ATAS MAKHLUK SELURUHNYA (II) yang sudah kami tampilkan pekan lalu.
dalil yang Kesembilan: Persaksian Nabi bahwa seorang budak wanita yang ditanya di mana Allah, kemudian menjawab Allah di atas langit sebagai wanita beriman.
Sesuai dengan hadits Mu’awiyah bin al-Hakam:


فَقَالَ لَهَا: «أَيْنَ اللهُ؟»، قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: «مَنْ أَنَا؟»، قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ. قَالَ: «أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤمِنَةٌ
“ Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: Di mana Allah? Dia menjawab: di atas langit. Rasul bertanya: Siapa saya? Wanita itu menjawab: engkau adalah utusan Allah. Maka Nabi bersabda: ‘Bebaskan dia, karena dia adalah seorang (wanita) beriman” (H.R Muslim).
Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi’i di dalam kitab al-‘Umm juz 5 halaman 298. Mengenai periwayatan Imam Asy-Syafi’i tersebut Imam Abu Utsman Ash-Shoobuny menyatakan di dalam kitabnya ‘Aqidatus Salaf Ashaabul Hadiits:

وإنما احتج الشافعي رحمة الله عليه على المخالفين في قولهم بجواز إعتاق الرقبة الكافرة بهذا الخبر ، لاعتقاده أن الله سبحانه فوق خلقه ، وفوق سبع سماواته على عرشه ، كما معتقد المسلمين من أهل السنة والجماعة ، سلفهم وخلفهم ، إذ كان رحمه الله لا يروي خبرا صحيحا ثم لا يقول به . وقد أخبرنا الحاكم أبو عبد الله رحمه الله قال أنبأنا الإمام أبو الوليد حسان بن محمد الفقيه قال حدثنا إبراهيم بن محمود قال سمعت الربيع بن سليمان يقول سمعت الشافعي رحمه يقول : إذا رأيتموني أقول قولا وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم خلافه فاعلموا أن عقلي قد ذهب
Asy-Syafi’i –semoga rahmat Allah atasnya- berhujjah terhadap para penentang yang menyatakan bolehnya memerdekakan budak kafir dengan khabar (hadits) ini karena keyakinan beliau bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’ala di atas makhluk-makhlukNya, dan di atas tujuh langit di atas ‘ArsyNya sebagaimana keyakinan kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama’ah baik yang terdahulu maupun kemudian, karena beliau (Asy-Syafi’i) tidaklah meriwayatkan khabar (hadits) yang shahih kemudian tidak berpendapat dengan (hadits) tersebut. Telah mengkhabarkan kepada kami al-Haakim Abu Abdillah rahimahullah (dia berkata) telah mengkhabarkan kepada kami Abul Waliid Hasaan bin Muhammad al-Faqiih (dia berkata) telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Mahmud dia berkata aku mendengar ArRabi’ bin Sulaiman berkata: Aku mendengar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: Jika kalian melihat aku mengucapakan suatu ucapan sedangkan (hadits) yang shahih dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bertentangan dengannya, maka ketahuilah bahwasanya akalku telah pergi.
            Jika ada yang bertanya: Siapa Abu Utsman Ash-Shobuuny sehingga dia bisa tahu maksud ucapan Imam Asy-Syafi’i? Maka kita jawab: Abu Utsman Ash-Shoobuny adalah salah seorang ulama’ bermadzhab Asy-Syafi’i (sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafidz Adz-Dzahaby dalam Siyaar A’laamin Nubalaa’). Imam Al-Baihaqy menyatakan tentang Abu Utsman Ash-Shobuuny:
“Imam kaum muslimin yang sebenarnya, dan Syaikhul Islam yang sejujurnya”(Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ juz 18 halaman 41).
Kami kemukakan ucapan Imam al-Baihaqy di sini karena para penentang Ahlussunnah banyak memanfaatkan ketergeliciran Imam al-Baihaqy dalam memahami Asma’ Was-Sifat.

Kesepuluh: Penjelasan bahwa Allah ber-istiwa’ di atas ‘Arsy. Lafadz istiwa’ diikuti dengan penghubung على sehingga bermakna ‘tinggi di atas’ ‘Arsy.
Sebagaimana disebutkan dalam AlQur’an pada 8 tempat pada surat: Al-A’raaf:54, Yunus: 3, Yusuf:100, Ar-Ra’d:2, Thaha:5, al-Furqaan:59, As-Sajdah:4, al-Hadid:4. Para Ulama menjelaskan bahwa ‘Arsy adalah makhluk Allah yang terbesar dan tertinggi.

Kesebelas: Nabi mengisyaratkan ke atas saat meminta persaksian kepada Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir riwayat Muslim yang mengisahkan kejadian pada Haji Wada’:

وَأَنْتُمْ تُسْأَلُونَ عَنِّي فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ قَالُوا نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ اللَّهُمَّ اشْهَدْ اللَّهُمَّ اشْهَدْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“(Nabi bersabda) “Dan kalian akan ditanya tentang aku, apa yang akan kalian katakan? Para Sahabat berkata: ‘Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan (amanah), dan menyampaikan nasihat’. Maka Nabi mengisyaratkan dengan mengangkat jari telunjuknya ke langit mengetuk-ngetukkannya ke hadapan manusia (dan berkata) Ya Allah persaksikanlah (3 kali)(H.R Muslim).

Keduabelas: Disunnahkannya seorang yang berdoa menengadahkan tangan menghadap ke atas
Sebagaimana dalam hadits Umar bin al-Khottob yang mengisahkan kejadian pada perang Badr:
اسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ: «اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ

“Nabiyullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menghadap kiblat kemudian menengadahkan tangannya dan berteriak kepada Rabb-nya: Ya Allah tunaikanlah apa yang Engkau janjikan untukku, Ya Allah berikanlah apa yang Engkau janjikan untukku, Ya Allah jika Engkau membinasakan kelompok ini dari Ahlul Islam, Engkau tidak akan disembah di bumi” (H.R Muslim).
عنْ سلمانَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إنَّ الله حَيِيٌّ كريمٌ، يَسْتَحْيِي إذا رَفَعَ الرَّجُلُ إليهِ يَدَيْهِ أن يَرُدَّهُما صُفْرًا خَائِبَتَيْنِ
 Dari Salman –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Pemalu lagi Mulya. Dia malu jika seseorang mengangkat kedua tangan ke arahNya kemudian Allah mengembalikan kedua tangan itu dalam keadaan nol sia-sia (H.R atTirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh alAlbaany).

Ketigabelas: Penjelasan bahwa penduduk Jannah akan melihat Wajah Rabb-Nya
Para Ulama’ menjelaskan bahwa salah satu dalil yang menunjukkan ketinggian Allah adalah bisa dilihatnya Allah nanti oleh penduduk Jannah.
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ البجليِّ رضي الله عنه قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا لَيْلَةً مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ ليلَةَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ، فَقَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هذَا لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ
Dari Jarir bin Abdillah al-Bajaliy –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: “Kami duduk pada suatu malam bersama Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau melihat pada bulan pada malam tanggal 14 beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat (bulan) ini, tidaklah berdesakan dalam melihatnya” (H.R al-Bukhari dan Muslim).

Keempatbelas: Penjelasan tentang turunnya Allah Subhaanahu Wa Ta’ala ke langit dunia setiap sepertiga malam yang terakhir.
عن أبي هريرةَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟»
Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tuhan kita Tabaaroka Wa Ta’ala turun ke langit dunia tiap malam ketika telah tersisa sepertiga malam, kemudian Dia berkata: Siapakah yang akan berdoa kepadaku, Aku akan kabulkan. Siapa yang meminta kepadaku Aku akan beri, siapa yang memohon ampunan kepadaku, Aku akan ampuni”(H.R al-Bukhari dan Muslim, hadits yang mutawatir).

Kelimabelas: Khabar dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau pada waktu Isra’ Mi’raj setelah mendapatkan perintah sholat bolak-balik ketika berpapasan dengan Musa kembali naik menuju Allah untuk meminta keringanan bagi umatnya. Demikian terjadi beberapa kali. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «… أَوْحَى اللهُ إِلَيَّ مَا أَوْحَى فَفَرَضَ عَلَيَّ خَمْسِينَ صَلاَةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ. فَنَزَلْتُ إِلَى مُوسَى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ؟ قُلْتُ: خَمْسِينَ صَلاَةً. قَالَ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لاَ يُطِيقُونَ ذَلِكَ. فَإِنِّي قَدْ بَلَوْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَخَبَرْتُهُمْ. قَالَ: فَرَجَعْتُ إِلَى رَبِّي فَقُلْتُ: يَا رَبِّ! خَفِّفْ عَلَى أُمَّتِي. فَحَطَّ عَنِّي خَمْسًا. فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقُلْتُ: حَطَّ عَنِّي خَمْسًا. قَالَ: إِنَّ أُمَّتَكَ لاَ يُطِيقُونَ ذَلِكَ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ. قَالَ: فَلَمْ أَزَلْ أَرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيْنَ مُوسَى عليه السلام حَتَّى قَالَ: يَا مُحَمَّدُ! إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ. لِكُلِّ صَلاَةٍ عَشْرٌ. فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلاَةً… قَالَ: فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ. فَقُلْتُ: قَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ»
Dari Anas bin Malik –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “….Allah mewahyukan kepadaku apa yang Ia wahyukan. Maka Ia mewajibkan kepadaku 50 sholat sehari semalam. Maka aku turun menuju Musa shollallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian ia berkata: Apa yang Rabbmu wajibkan bagi umatmu? Aku berkata: 50 sholat. Musa berkata: kembalilah pada Tuhanmu, mintakanlah padanya keringanan, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukannya. Karena sesungguhnya aku telah mencoba Bani Israil dan aku mengerti keadaan mereka. Rasululullah berkata: Maka aku kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk umatku. Maka dihapuskan dariku 5 sholat. Kemudian aku kembali ke Musa dan berkata: Telah dihapuskan (dikurangi) untukku 5 sholat. Musa berkata: sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup, kembalilah pada Tuhanmu dan mintakanlah keringanan. Nabi bersabda: Senantiasa aku bolak-balik antara Tuhanku Tabaroka Wa Ta’ala dengan Musa ‘alaihis salaam sampai Allah berfirman: Wahai Muhammad sesungguhnya kewajiban sholat tersebut adalah 5 kali sehari semalam. Setiap sholat dilipatgandakan 10 kali. Maka yang demikian adalah (senilai) 50 sholat…..Nabi bersabda: Maka kemudian aku turun sampai pada Musa shollallaahu ‘alaihi wasallam, maka aku khabarkan kepadanya. Musa berkata: Kembalilah pada Rabmu dan mintakanlah keringanan. Maka aku (Rasulullah) berkata: Aku telah kembali pada Rabku, sampai aku merasa malu padaNya” (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat Muslim).

sumber :  http://www.salafy.or.id/2012/02/06/ketinggian-allah-di-atas-seluruh-makhluk-nya-iii/
baca selanjutnya “KETINGGIAN ALLAH DI ATAS SELURUH MAKHLUK-NYA (3)”